Virus Corona Juga Mengubah Kebiasaan Orang Berbelanja...

Kompas.com - 24/03/2020, 14:33 WIB
. Getty Images/iStockphoto.

KOMPAS.com - Di tengah wabah virus corona, konsumen dapat mengembangkan kebiasaan baru.

Beberapa kebiasaan itu bisa menjadi keuntungan bagi bisnis untuk pengecer online. Setidaknya demikianlah hasil survei Coresight Research yang dilakukan minggu lalu.

Ketika wabah terus berlanjut, dua pertiga orang yang disurvei mengatakan mereka berencana untuk lebih banyak berbelanja online.

Lebih dari sepertiga responden mengatakan, mereka berencana berbelanja online lebih sering, dan mengurangi belanja di toko dalam jangka panjang.

Baca juga: Tak Perlu Panik, Begini Cara Screening Online Deteksi Covid-19

Memang, ada fenomena pembelian panik dalam urusan bahan makanan dan kebutuhan pokok rumah tangga lain.

Namun, laporan Coresight menunjukkan, konsumen bakal memperketat pengeluaran mereka ketika menyangkut masalah yang tidak esensial.

Cuma di bawah 13 persen responden Coresight yang masih mengatakan akan mengurangi pembelian di kategori apparel dan footwear.

Selain itu, sebagian besar responden Coresight (72 persen) mengatakan, mereka akan menghindari pusat perbelanjaan ketika wabah memburuk.

Baca juga: Ingin Cegah Virus Corona, Pasutri Malah Jadi Korban Klorokuin Fosfat

Bahkan dari jumlah itu, ada 64 persen yang menyebut mereka akan menghindari seluruh toko.

Di ranah fesyen Amerika Serikat, banyak pengecer telah menutup semua tokonya untuk sementara waktu karena virus corona. Hal ini tentu akan menurunkan angka penjualan.

Di tengah penutupan sementara toko, e-commerce bisa menjadi solusi untuk beberapa merek fesyen.

Satu dari tiga orang yang disurvei oleh Coresight menyebut, sehubungan dengan wabah, mereka berencana membeli lebih banyak pakaian secara online daripada yang biasa mereka lakukan.

Meskipun penjualan online dinilai akan meningkat, pengecer memprediksi penjualan di toko menurun.

Baca juga: Seorang Ibu Berbagi Pengalamannya soal Gejala Virus Corona pada Anak

Banyak pengecer menutup toko mereka sampai akhir Maret atau awal April 2020 karena rekomendasi social distancing.

Seruan semacam itu antara lain berlaku di sejumlah negara bagian, seperti New York, California dan Illinois, di mana di sana semua bisnis yang tidak esensial ditutup.

Bahkan, ahli kesehatan masyarakat mengatakan, penutupan itu bisa berlanjut lebih lama.

Akibat ketidakpastian situasi saat ini, beberapa perusahaan footwear kenamaan, termasuk Dick's Sporting Goods, Skechers, dan TJX Co., telah menutup usaha mereka.

Secara global, lebih dari 362.000 orang telah terinfeksi virus corona, dan hampir 15.500 orang meninggal dunia, berdasarkan data Johns Hopkins. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X