Kompas.com - 24/03/2020, 16:24 WIB

KOMPAS.com - Seseorang yang kehilangan indera penciuman secara tiba-tiba bisa menjadi "pembawa tersembunyi" virus corona, bahkan jika mereka tidak memiliki gejala lain.

Bukti itu dikumpulkan oleh para ahli rhinologi di Inggris, seperti dikutip dari laman Business Insider.

Di Korea Selatan, China, dan Italia, sekitar sepertiga pasien yang dites positif Covid-19 juga melaporkan hilangnya penciuman. Kondisi ini disebut anosmia atau hyposmia. 

Baca juga: Ayo Jauhi Gula di Masa Pandemi Virus Corona, Mengapa?

"Di Korea Selatan, di mana pengujian telah lebih luas, 30 persen pasien yang dites positif mengalami anosmia sebagai gejala utama yang mereka hadapi dalam kasus-kasus ringan."

Demikian pernyataan bersama Clare Hopkins, Presiden British Rhinological Society Professor, dan profesor Nirmal Kumar selaku Presiden British Association of Otorhinolaryngology.

Mereka menyebut, banyak pasien di seluruh dunia yang telah dites positif Covid-19 hanya menunjukkan gejala kehilangan bau dan rasa --tanpa gejala demam tinggi dan batuk yang lebih umum terlihat.

"Ada peningkatan jumlah laporan yang meningkat secara signifikan dalam jumlah pasien yang mengalami anosmia tanpa adanya gejala lain," demikian disebutkan dalam pernyataan itu.

"Iran melaporkan peningkatan mendadak dalam kasus anosmia terisolasi, dan banyak pula kejadian di AS, Perancis, dan Italia Utara dengan pengalaman serupa."

Baca juga: Selama Wabah Corona, Ganti Lensa Kontak dengan Kacamata

Gejala yang tidak umum dalam kasus ini bisa berarti mereka tidak diuji dan diisolasi. Hal ini menandakan mereka dapat berkontribusi terhadap penyebaran virus yang cepat di seluruh dunia.

"Pasien-pasien ini mungkin adalah beberapa dari 'pembawa tersembunyi' yang sampai sekarang telah memfasilitasi penyebaran Covid-19 yang cepat," tambah mereka.

Disebutkan, orang yang berusia lebih muda kemungkinan tidak menunjukkan gejala yang umum.

Kepada Sky News, Profesor Kumar mengatakan, pasien yang lebih muda bisa saja hanya menunjukkan hilangnya penciuman atau rasa.

Selebihnya, tidak ada gejala yang lebih umum yaitu demam tinggi dan batuk terus-menerus.

"Pada pasien muda, mereka tidak memiliki gejala yang signifikan seperti batuk dan demam."

"Tetapi mereka bisa jadi hanya kehilangan indera penciuman dan rasa, yang menunjukkan virus ini tinggal di hidung," kata dia.

Baca juga: Virus Corona Juga Mengubah Kebiasaan Orang Berbelanja...

Dengan kesimpulan ini, para profesor menyerukan siapa saja yang menunjukkan gejala kehilangan indera penciuman atau perasa agar mengisolasi diri selama tujuh hari.

Hal ini diperlukan guna mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.