WHO Minta Status "Lockdown" Tak Dicabut Terlalu Awal

Kompas.com - 26/03/2020, 14:16 WIB
Ilustrasi lockdown SHUTTERSTOCK/P.KhamgulaIlustrasi lockdown

KOMPAS.com - Karena pandemi virus corona, sejumlah negara meniru China mengeluarkan kebijakan penutupan wilayah (lockdown) guna menekan penyebaran virus tersebut.

Dalam kebijakan itu, otoritas juga melarang keras warganya berada di luar rumah, kecuali untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Sejauh ini aturan lockdown yang sudah dicabut adalah di Provinsi Hubei yang tadinya dikenal sebagai pusat wabah corona. Otoritas setempat pada Rabu (25/3/2020) secara resmi mencabut aturan lockdown meski masih menerapkan pembatasan jarak sosial.

Warga Hubei pun berbondong-bondong keluar dari rumah mereka menuju transportasi publik setelah dua bulan "dikurung" dalam rumah.

Direktur Jenderal World Health Organization ( WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan, bagi negara yang masih berperang melawan corona, pencabutan lockdown adalah hal terakhir yang dibutuhkan negara.

Menurut dia, lockdown saat ini memberikan peluang kedua bagi negara-negara di dunia untuk mengatasi wabah.

"Kami memahami negara-negara ini sekarang mencoba menilai kapan dan bagaimana cara melonggarkan langkah-langkah ini," kata Tedros pada konferensi pers.

"Jawabannya tergantung pada apa yang sudah dilakukan negara sementara langkah pembatasan ini ada."

Baca juga: Update: Berikut 16 Negara yang Berlakukan Lockdown karena Virus Corona

Tedros mengatakan, setiap negara perlu menerapkan langkah seperti memperluas dan melatih tenaga kesehatan, serta meningkatkan kecepatan dan produksi alat pengujian sebelum mempertimbangkan untuk mengakhiri lockdown.

"Langkah-langkah ini adalah cara terbaik untuk menekan dan menghentikan transmisi sehingga ketika pembatasan dicabut, virus corona tidak muncul kembali," katanya.

Ia mengatakan, tentu kita tidak ingin sekolah dan bisnis ditutup kembali karena virus kembali menyebar.

Kini Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 450.000 orang di seluruh dunia dengan angka kematian meningkat 20.000 orang, menurut angka terbaru dari Johns Hopkins University.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber nypost.com
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X