Wabah Virus Corona yang Mengubah Marwah Manusia

Kompas.com - 29/03/2020, 15:10 WIB
Berpakaian khusus, sejumlah petugas medis tengah mengevakuasi seorang warga Cianjur yang terpapar virus Corona ke Posko Siaga Polres Cianjur, Minggu (15/3/2020). Momen tersebut merupakan bagian dari giat simulasi penanganan pasien suspect virus corona yang digagas jajaran Polres Cianjur. KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANBerpakaian khusus, sejumlah petugas medis tengah mengevakuasi seorang warga Cianjur yang terpapar virus Corona ke Posko Siaga Polres Cianjur, Minggu (15/3/2020). Momen tersebut merupakan bagian dari giat simulasi penanganan pasien suspect virus corona yang digagas jajaran Polres Cianjur.

KOMPAS.com - Empat minggu sudah sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan resmi oleh pemerintah Republik Indonesia dan empat bulan sejak dunia dijungkirbalikkan oleh virus yang amat ditakuti saat ini.

Kehebatan virus corona yang mampu menelanjangi semuanya.

Bahkan, petinggi tak luput dari sebaran hoaks dan ‘ilmu asal samber tanpa sumber’ saking paniknya.

Tanpa ampun, pandemi Covid 19 sungguh-sungguh kejam memisahkan orang yang hidup sehat sungguhan dari mereka yang ‘nampak sehat di luarnya’ saja.

Baca juga: Kenali Gejala Virus Corona dari Hari ke Hari

Seperti lekasnya mutasi virus corona, informasi pun terus berubah setiap hari. Yang awalnya dikira seperti flu biasa, bisa sembuh sendiri, ternyata virus corona ini mampu merusak paru lebih parah dari pneumonia akibat bakteri pneumokokus.

Menganggap ringan masalah, terlambatnya antisipasi hingga akhirnya tindakan operasional tanggap darurat diberlakukan membuat kita seperti orang yang masa bodoh dengan kondisi rumah di musim kemarau – dan saat hujan deras datang, bocor bersamaan di segala penjuru atap, sampai bingung mau menambal yang mana dulu.

Di saat yang sama, Indonesia tidak hanya didera Covid-19. Puluhan kematian dan ratusan penderita demam berdarah beritanya tertutup tanpa suara. Bahkan, bisa jadi kasus tumpang tindih yang amat mengerikan dari sisi epidemiologi.

Setiap sore, antara jam 15.30-16.00 WIB disadari atau tidak, pemirsa televisi sudah mulai tegang mendengar informasi terbaru jumlah orang yang terkonfirmasi. Bahkan makin hari jumlah yang meninggal sudah melejit jauh dibandingkan yang sembuh.

Saya dan beberapa sejawat mempunyai istilah “Yuri’s time”. Dirjen P2P Achmad Yurianto yang setiap hari pasti muncul di jam mendebarkan itu. Untungnya bukan di jam orang sedang makan.

Baca juga: Perbedaan DBD dan Corona Tak Begitu Kentara, Bisa Buat Salah Diagnosis

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X