DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Wabah Virus Corona yang Mengubah Marwah Manusia

Kompas.com - 29/03/2020, 15:10 WIB
Berpakaian khusus, sejumlah petugas medis tengah mengevakuasi seorang warga Cianjur yang terpapar virus Corona ke Posko Siaga Polres Cianjur, Minggu (15/3/2020). Momen tersebut merupakan bagian dari giat simulasi penanganan pasien suspect virus corona yang digagas jajaran Polres Cianjur. KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANBerpakaian khusus, sejumlah petugas medis tengah mengevakuasi seorang warga Cianjur yang terpapar virus Corona ke Posko Siaga Polres Cianjur, Minggu (15/3/2020). Momen tersebut merupakan bagian dari giat simulasi penanganan pasien suspect virus corona yang digagas jajaran Polres Cianjur.

 

Seumur hidup saya, saat ini adalah panik publik yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Dalam sekejap, semua berubah 180 derajat.

Orang yang tadinya masa bodoh makan dan minum semaunya, sekarang ribut mencari imunitas instan.

Seakan-akan kekebalan itu bisa dibeli dengan harga murah – sebutlah berupa secangkir empon-empon atau segenggam suplemen.

Suatu teknik menenangkan diri yang membuka peluang ekonomi.

Seperti memakai masker bedah, tanpa paham cara pakai yang benar dan cara membuang yang beretika.

Dalam waktu sekejap, awam pun harus mengikuti les tindakan aseptik dan antiseptik ala kamar bedah.

Video lawas saya mendadak viral, mengajar orang berjemur di bawah matahari selama bertahun-tahun, baru sekarang secara nasional membuahkan hasil. Setelah virusnya marah.

Itu pun masih harus meluruskan banyak hal. Ada yang berjemur dengan pakaian lengkap, seakan-akan ultra violet B nya bisa menembus macam sinar X, ada yang masih dioles tabir surya – sayang habis buang jutaan rupiah demi perawatan kulit.

Padahal, tengkuk hingga punggung adalah lahan terbagus dengan meter persegi terbanyak untuk terkena cahaya matahari langsung, tanpa perlu menambah bintik hitam di wajah.

Baca juga: Ayo Jauhi Gula di Masa Pandemi Virus Corona, Mengapa?

Saya juga punya slogan yang selalu diulang dan terulang secara otomatis setiap kali mengajar dan praktek tentang perubahan perilaku manusia, yang dimulai dengan kata ‘terpaksa’.

Akibat dipaksa. Akhirnya bisa, lalu biasa dan jadi budaya. Terpaksa hidup bersih dengan cuci tangan pakai sabun, terpaksa masak sendiri karena parno dengan yang masak di luar sana dan dipaksa harus tinggal di rumah untuk memutus penyebaran virusnya. Bisa sehari, walaupun pakai ngomel dan marah.

Orang yang dinikahi dengan semua mimpi ternyata musuh berdebat paling hebat, akibat lebih dari 12 jam bersama dalam hidup nyata.

Ada lansia yang tak tahan dengan berkumpulnya anak mantu dan cucu serumah dalam 24 jam, sampai ketika ia mulai batuk-batuk senewen malah minta diisolasi di Rumah Sakit, ketimbang mendengar berbagai syahadat teori anaknya.

Baca juga: Pahami Perbedaan Social Distancing, Isolasi Diri, dan Karantina

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.