"Lebay" Proteksi Diri Pakai Baju Hazmat Justru Bahaya, Apa Alasannya?

Kompas.com - 30/03/2020, 17:45 WIB
Pasangan suami istri memakai baju hazmat yang merupakan alat pelindung diri tenaga medis saat berbelanja di mal Gandaria City, Jakarta, Sabtu (28/3/2020). -Pasangan suami istri memakai baju hazmat yang merupakan alat pelindung diri tenaga medis saat berbelanja di mal Gandaria City, Jakarta, Sabtu (28/3/2020).

KOMPAS.com - Sebuah video viral di media sosial karena menunjukkan sepasang suami istri mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat ketika berbelanja di pusat perbelanjaan di Gandaria City, Jakarta Selatan.

Seperti diketahui, baju hazmat biasa digunakan oleh tenaga medis sebagai perlindungan dari material berbahaya atau penyakit infeksi.

Kepolisian setempat mengatakan pasangan tersebut marah-marah ketika diminta melepaskan baju hazmat mereka. Diduga mereka takut terjangkit virus corona.

Pemandangan serupa pernah kita lihat sebelumnya, misalnya model Naomi Campbell yang mengenakannya ketika hendak naik pesawat dan komedian Howie Mandel yang memakainya untuk syuting America's Got Talent.

Meski baju hazmat kerap digunakan sebagai pelindung oleh tenaga medis, apakah manfaat serupa bisa didapatkan masyarakat bisa ketika mengenakannya saat beraktivitas?

"Mungkin itu menyenangkan. Namun dari sudut pandang keamanan dan higienitas, itu merupakan bencana," kata direktur Harvard Global Health Insitute, Dr. Ashish K. Jha, seperti dilansir dari GQ

Jha menambahkan, seperti masker bedah yang sekarang kini banyak dikenakan orang, tindakan perlindungan heboh seperti memakai APD hanya berguna bagi mereka yang sudah terinfeksi, sehingga dapat melindungi orang lain agar tidak tertular.

Baca juga: Presiden Jokowi: Stok Semakin Terbatas, RI Butuh 3 Juta APD

Namun, menggunakan baju hazmat untuk menghindari virus corona mungkin justru memberi hasil sebaliknya.

Dengan kata lain, melindungi diri tidaklah sesederhana hanya dengan mengenakan baku hazmat.

"Biasanya, ada protokol khusus yang harus kamu ikuti, atau kamu akhirnya benar-benar menulari diri sendiri," kata Jha.

Ia mencontohkan ketika menangani wabah Ebola, ada banyak tenaga medis yang terinfeksi meskipun mereka sudah dibekali pelatihan. Penyebabnya, masih banyak tenaga kesehatan yang saat itu tidak cukup hati-hati dan mengikuti aturan yang tepat tentang cara melepaskan pakaian tersebut.

Naomi CampbellInstagram Naomi Campbell Naomi Campbell

Jha mengatakan bahwa salah satu langkah paling penting untuk menghindari paparan virus adalah dengan tidak menyentuh wajah.

Hal yang dikhawatirkan ketika memakai masker adalah orang-orang justru makin sering menyentuh wajahnya.

Baca juga: 7 Cara Menghilangkan Kebiasaan Pegang Wajah untuk Cegah Virus Corona

Kekhawatiran keduanya adalah bahwa baju hazmat memiliki kesan seperti kostum superhero.

"Dugaan saya adalah mereka mungkin merasa lebih tak terkalahkan karena mereka (berpakaian) seperti itu. Membuat mereka jadi kurang berhati-hati," katanya.

Sementara itu, profesor epidemiologi dari Kent State University, Tara Smith mengatakan kepada Futurism bahwa fenomena tersebut sudah dipantau olehnya. Ia mengaku sangat skeptis dengan cara orang awam mengenakan pakaian tersebut. 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X