Polusi Udara dan Penyakit Jantung Tingkatkan Risiko Demensia

Kompas.com - 31/03/2020, 16:28 WIB
Kendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGKendaraan padat merayap dengan latar belakang gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019). Berdasarkan data situs penyedia peta polusi daring harian kota-kota besar di dunia AirVisual, menempatkan Jakarta pada urutan pertama kota terpolusi sedunia pada Senin (29/7) pagi dengan kualitas udara mencapai 183 atau dalam kategori tidak sehat.

KOMPAS.com - Tinggal di tempat yang memiliki tingkat polusi udara rendah merupakan faktor yang berpengaruh besar bagi kesehatan, terutama untuk menurunkan risiko gangguan paru dan juga masalah pada otak.

Menurut penelitian, orang yang punya masalah jantung dan hidup di daerah berpolusi, bahkan walau tingkat polusinya rendah, beresiko tinggi menderita demensia. Ini merupakan penyakit penurunan fungsi kognitif dan ditandai dengan kepikunan.


"Yang menarik, efek berbahaya dari polusi udara di bawah standar," kata Giulia Grande, peneliti di Departement of Neurobiology, Care Science and Society di Karolinska Institutet dalam sebuah pernyataan.

Tingkat demensia yang lebih tinggi ditemukan di area pusat kota Stockholm yang secara konsisten sebenarnya memiliki tingkat polusi udara jauh di bawah batas Eropa dan Amerika Serikat.

Standar polusi itu mengukur tingkat materi partikulat, yakni campuran zat padat dan cair yang ditemukan di udara.

Debu, kotoran dan asap memiliki partikel lebih besar, tetapi ada juga partikel kecil yang dapat dihirup dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Partikel itu disebut PM 2.5 karena ukuran umumnya 2,5 mikrometer atau kurang. Sebagai perbandingan, rata-rata rambut manusia 30 kali lebih besar dari partikel PM 2.5.

Baca juga: Minggu Ketiga Kerja dari Rumah karena Covid-19, Polusi Udara Jakarta Membaik

Gangguan jantung, polusi udara, dan demensia

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan kaitan langsung antara penyakit kardiovaskular dan risiko demensia, sementara penelitian lain menunjukkan hubungan udara yang tercemar dan demensia.

Grande dan timnya berusaha melihat bagaimana penyakit kardiovaskular dan polusi udara jangka panjang memengaruhi fungsi otak saat digabungkan.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber CNN
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X