Angka Kematian Global karena Virus Corona Lebih Kecil dari Perkiraan

Kompas.com - 01/04/2020, 09:00 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Selasa (31/3/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona.

KOMPAS.com - Angka kematian akibat penyakit Covid-19 rata-rata di dunia lebih rendah dibanding angka kematian di Wuhan, China, tempat penyakit ini pertama kali ditemukan. Demikian menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal The Lancet Infectious Disease.

Para ilmuwan memprediksi angka kematian akibat virus ini sekitar 0,66 persen, jauh lebih rendah daripada yang semua diperkirakan, yaitu 2 - 3,4 persen.

Para peneliti mengatakan, tingkat kematian Covid-19 yang lebih rendah ditentukan oleh perhitungan untuk kasus-kasus yang tidak terdiagnosis --bisa disebabkan karena gejalanya ringan atau tidak memiliki gejala.

Kendati begitu, angka kematian akibat virus ini memang bervariasi di tiap negara. Secara global angka kematian sebesar 4 persen. Di Indonesia, angka kematiannya mencapai 8.6 persen, tertinggi di dunia.

Kasus tak terdeteksi

Penelitian yang dilakukan oleh Azra Ghani dari Inggris itu menggunakan pemodelan berdasarkan jumlah kasus terdeteksi di antara warga yang dipulangkan dan secara agresif diuji untuk virus tersebut.

Sejalan dengan hasil studi lain, para peneliti menemukan mayoritas kematian adalah di antara orang dewasa yang berusia 80 tahun atau lebih. Angka kematiannya mencapai 10 kali lipat dibanding pada orang muda.

Baca juga: Update Virus Corona di Dunia 1 April: 854.608 Kasus di 201 Negara, 176.908 Sembuh

"Mungkin ada kasus yang mendapat banyak perhatian media, tetapi analisis kami jelas menunjukkan pada orang berusia 50 tahun ke atas, perlu rawat inap jauh daripada usia di bawah 50 tahun, dan proporsi lebih besar dari kasus cenderung berakibat fatal."

Para peneliti mencatat, tingkat kematian untuk virus corona lebih tinggi daripada flu, yang menyebabkan kematian pada 0,1 persen kasus.

"Meskipun tingkat kematian rendah untuk orang lebih muda, sangat jelas anggapan Covid-19 sama seperti influenza adalah salah," kata Shigui Ruan, profesor di department of mathematics di University of Miami, dalam sebuah komentar.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber NYPost
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X