Orangtua Depresi Terbukti Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Kompas.com - 01/04/2020, 22:00 WIB
Ilustrasi depresi pasca melahirkan Shutterstock.comIlustrasi depresi pasca melahirkan

KOMPAS.com - Studi pencitraan otak terbesar pada anak-anak yang pernah dilakukan di Amerika Serikat telah mengungkap, adanya perbedaan struktural pada otak anak-anak yang orangtuanya mengalami depresi.

Depresi adalah kondisi kesehatan mental yang umum dan melemahkan yang biasanya mulai berkembang selama masa remaja.

Sementara penyebab depresi sangat kompleks, memiliki orangtua dengan depresi adalah salah satu faktor risiko terbesar.

Baca juga: Jadi Bagian dari Tim Sepak Bola Membuat Anak Mampu Menangkal Depresi

Penelitian secara konsisten menunjukkan, bahwa anak-anak remaja dari orangtua dengan depresi, dua sampai tiga kali lebih mungkin untuk mengalami depresi juga daripada mereka yang tumbuh dengan orangtua tanpa riwayat depresi.

Namun, mekanisme otak yang mendasari risiko keluarga ini belum jelas.

Sebuah studi baru, yang dipimpin oleh David Pagliaccio, PhD, asisten profesor neurobiologi klinis di Departemen Psikiatri di Columbia University Vagelos College of Physicians and Surgeons, menemukan perbedaan struktural pada otak anak-anak yang berisiko tinggi mengalami depresi karena riwayat depresi orangtuanya.

Studi ini telah diterbitkan dalam Journal of American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.

Para peneliti menganalisis gambar otak dari lebih dari 7.000 anak yang berpartisipasi dalam studi Pengembangan Kognitif Otak Remaja, yang dipimpin oleh NIH.

Sekitar sepertiga dari anak-anak berada dalam kelompok berisiko tinggi, karena mereka memiliki orangtua dengan depresi.

Baca juga: Cegah Depresi dan Risiko Bunuh Diri dengan Berkumpul Bersama Keluarga

 

Pada anak-anak berisiko tinggi, putamen kanan - struktur otak yang terkait dengan hadiah, motivasi, dan pengalaman kesenangan - lebih kecil daripada anak-anak yang tidak memiliki riwayat depresi orangtua.

Randy P. Auerbach, PhD, profesor psikologi medis dan penulis senior studi ini, mencatat, temuan ini menyoroti faktor risiko potensial yang dapat menyebabkan pengembangan gangguan depresi selama puncak periode onset.

“Namun, dalam penelitian kami sebelumnya, volume putamen yang lebih kecil juga telah dikaitkan dengan anhedonia - berkurangnya kemampuan untuk mengalami kesenangan - yang terlibat dalam depresi, penggunaan narkoba, psikosis, dan perilaku bunuh diri,” jelas Auerbach.

Baca juga: 6 Gaya Hidup yang Memicu Depresi

“Dengan demikian, mungkin volume putamen yang lebih kecil adalah faktor risiko transdiagnostik yang dapat memberikan kerentanan terhadap gangguan mental berbasis luas."

Dr. Pagliaccio menambahkan, bahwa memahami perbedaan otak anak-anak dengan faktor risiko keluarga untuk depresi dapat membantu meningkatkan identifikasi dini pada mereka yang berisiko besar untuk mengalami depresi itu sendiri, dan mengarah pada peningkatan diagnosis dan pengobatan.

“Karena anak-anak akan diikuti selama 10 tahun pada salah satu periode dengan risiko terbesar, kami memiliki peluang unik untuk menentukan, apakah volume putamen yang berkurang terkait dengan depresi secara spesifik atau gangguan mental secara lebih umum," ujarnya.

Baca juga: 10 Cara Aman Mengatasi Depresi Tanpa Obat-obatan



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X