Benarkah Sabun Antibakteri Lebih Ampuh Membunuh Kuman?

Kompas.com - 02/04/2020, 06:15 WIB
. SHUTTERSTOCK.

Sabun antibakteri mengandung bahan kimia yang berbahaya

Di saat sabun biasa hanya terdiri dari lemak, minyak, dan alkali (nama lain natrium hidroksida, garam alkali ionik), sabun antibakteri mengandung bahan kimia seperti triclosan dan triclocarban.

Kedua bahan kimia ini dilarang oleh FDA sejak tahun 2016, bersama 19 bahan lainnya dalam sabun antibakteri.

"Meskipun dianggap aman, beberapa sabun antibakteri mengandung sejumlah agen kimia yang keamanan jangka panjangnya belum dipahami dengan baik," kata Malden.

Triclosan dan triclocarban masih digunakan dalam berbagai produk perawatan kesehatan seperti sabun, obat kumur, pasta gigi, dan pembersih tangan.

Baca juga: Apa Beda Sabun Muka Pria dan Wanita?

Keduanya digunakan, meski tidak memiliki manfaat kesehatan dan berpotensi berkontribusi terhadap resistensi bakteri, menurut tinjauan dalam Journal of Toxicology and Environmental Health pada 2018.

Selain itu, laporan tahun 2017 membagikan konsensus 200 ilmuwan dan profesional medis, yang menunjukkan tidak ada bukti triclosan dan triclocarban meningkatkan kesehatan atau mencegah penyakit.

Dan pada kenyataannya, bahan kimia ini dapat menimbulkan risiko kesehatan dan lingkungan.

Sementara itu, menurut Dr. Carl Fichtenbaum, spesialis penyakit menular di University of Cincinnati College of Medicine, jenis sabun tidaklah penting, apalagi untuk membersihkan tangan dari virus seperti Covid-19.

Ia mengatakan, sabun antibakteri tidak akan memberi kita keunggulan dibandingkan sabun biasa.

Baca juga: Jangan Biasakan Cuci Muka dengan Sabun Mandi

"Tidak ada bukti yang jelas sabun antibakteri bekerja lebih baik daripada sabun lainnya," kata Fichtenbaum.

"Yang paling penting adalah mencuci tangan selama setidaknya 20 detik, dan kemudian kombinasi sabun ditambah tindakan mekanis yang berfungsi untuk membersihkan tangan dari virus."

Saat ini, banyak produk cuci tangan antibakteri memakai bahan-bahan antibakteri alami seperti minyak pinus atau minyak esensial seperti lavender dan thyme.

Beberapa produk masih mencantumkan bahan kimia yang dilarang dalam bahan-bahannya, meskipun sekarang banyak yang menggunakan benzalkonium klorida sebagai bahan aktif antiseptik umum yang sebenarnya dapat menyebabkan iritasi kulit.

Secara keseluruhan, baik FDA dan CDC telah menyatakan bahwa efektivitas sabun antibakteri dalam membunuh kuman tidak terbukti, dan itu tidak lebih efektif daripada sabun biasa.

Baca juga: Bagaimana Memilih Sabun Mandi yang Cocok untuk Kulit?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X