Kompas.com - 05/04/2020, 18:26 WIB
Penumpang mengenakan masker di ruang tunggu yang nyaris kosong di Bandara Internasional John F Kennedy, New York, 31 Januari 2020. Kecemasan kian meningkat menyusul penyebaran virus corona yang semakin luas. AFP/SPENCER PLATTPenumpang mengenakan masker di ruang tunggu yang nyaris kosong di Bandara Internasional John F Kennedy, New York, 31 Januari 2020. Kecemasan kian meningkat menyusul penyebaran virus corona yang semakin luas.

KOMPAS.com – Respon setiap orang menghadapi situasi yang tidak pasti seperti pandemi Covid-19 tentu berbeda-beda. Ada yang selalu mengeluh karena bosan terkurang di rumah, ada pula yang mampu berdamai dengan keadaan dan menyebarkan optimisme ke lingkungan sekitar.

Di media sosial sebuah infografis yang menunjukkan tiga zona emosional di era Covid-19 sedang viral. Menurut grafis tersebut, ada tiga zona yang menggambarkan kondisi emosi kita, yaitu zona ketakutan, zona belajar, dan zona bertumbuh.

Orang-orang yang memiliki ciri sering mengeluh, membeli stok masker dan obat berlebihan, gampang menyebar setiap informasi apa pun dari media sosial, dan menyebarkan rasa takut dan marah, dianggap sedang dalam zona ketakutan.

Sementara itu, orang yang berhenti membaca berita-berita yang membuat cemas, mulai mengenal emosi sendiri, serta menyadari bahwa semua pihak berusaha melakukan yang terbaik, merupakan ciri seseorang dari zona belajar.

Di zona bertumbuh, seseorang akan memiliki kemampuan untuk mempraktikkan keheningan, kesabaran, penuh kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain, sampai mampu menjaga emosi tetap bahagia.

Baca juga: Stigma Negatif Akan Menambah Beban Psikologis ODP akibat Covid-19

Menurut psikolog Sandi Kartasasmita M.Psi, infografis yang sedang viral itu sebenarnya tidak diajarkan dalam ilmu psikologi.

“Pencipta grafis itu ingin mengajak kita mengetahui kondisi saya ada di mana sekarang. Kalau sudah tahu ada di zona apa, mau atau tidak kita untuk mengembangkannya,” kata Sandi ketika dihubungi Kompas.com (4/4).

Petugas medis Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan uji cepat (rapid test) massal Covid-19 dengan skema drive thru di GOR Pajajaran, Bogor, Sabtu (4/4/2020). Sebanyak 128 orang dalam pemantauan (ODP) mengikuti rapid test ini dari target 284 orang.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Petugas medis Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan uji cepat (rapid test) massal Covid-19 dengan skema drive thru di GOR Pajajaran, Bogor, Sabtu (4/4/2020). Sebanyak 128 orang dalam pemantauan (ODP) mengikuti rapid test ini dari target 284 orang.

Ia mengatakan, walau disebut ada tiga zona kondisi psikologis dalam pandemi Covid-19, tapi bukan berarti pergerakannya linear.

Tidak berarti seseorang akan masuk ke zona ketakutan dulu, lalu berkembang jadi belajar, dan akhirnya bertumbuh.

“Ini bukan sebuah tahapan, tapi ingin menunjukkan kita ada di posisi mana. Saya misalnya, tidak pernah di zona ketakutan, saya langsung ada di zona bertumbuh,” ujar dosen psikologi kesehatan di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta ini.

Kendati demikian, orang-orang yang berada di zona ketakutan, menurut Sandi, adalah hal yang wajar.

“Adalah wajar jika kita ada di zona ketakutan karena kita berhadapan dengan kemungkinan kematian, baik itu kematian saya atau orang yang saya cintai. Sangat manusiawi jika kita takut,” ujarnya.

Baca juga: Waspadai Gejala Kecemasan Selama Pandemi Covid-19

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Mau berubah atau tidak 

Dengan memahami posisi kita ada di zona mana, selanjutnya kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kita mau tetap di zona ini atau keluar.

Jika kita berada di zona ketakutan, misalnya, maka jika kita tetap tidak mau keluar dari zona ini, kita hanya akan merusak diri.

“Karena takut, kita jadi beli stok masker berlebihan. Di zona ini energinya takut, selalu khawatir. Padahal, energi itu bisa merusak tubuh sendiri, memakan sistem imun kita,” paparnya.

Sandi mengatakan, setiap orang bisa keluar dari zona ketakutan. Namun, tidak semua orang mau berubah.

Baca juga: Ini 5 Penelitian yang Memberikan Harapan dalam Melawan Corona

“Sudah waktunya kita keluar dari zona ketakutan. Dalam gambaran zona-zona tersebut, kita menghadapi pandemi yang sama, tapi kita sendiri yang memutuskan apakah kita akan selalu cepat marah atau belajar sesuatu yang baru,” katanya.

Menurut Sandi, zona tersebut bukanlah zona yang mati. Dalam artian, bisa saja orang yang sudah ada di zona bertumbuh akan masuk lagi ke zona ketakutan. Misalnya karena dipicu oleh kabar kematian anggota keluarga akibat virus ini.

“Itu adalah hal yang manusiawi, tapi cuma kita sendiri yang bisa menentukan kita akan berada di zona yang mana,” ujarnya.

Agar kita bisa belajar dan bertumbuh, Sandi menyarankan agar kita melakukan hal yang pasti atau berada di bawah kendali kita.

“Lakukan hal-hal yang pasti, yang bisa membuat kita terhindar dari penyakit ini. Misalnya rajin cuci tangan, menjaga jarak, hidup sehat. Belajarlah melakukan sesuatu yang bisa kita kerjakan,” katanya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.