Kompas.com - 10/04/2020, 21:13 WIB
Buruh migran berjalan menuju desa mereka selama karantina wilayah (lockdown) di New Delhi, India, Minggu (29/3/2020). Pemerintah India pada 24 Maret lalu mulai memberlakukan lockdown selama 21 hari di seluruh wilayah negara itu dalam upaya mengendalikan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/XINHUA/JAVED DARBuruh migran berjalan menuju desa mereka selama karantina wilayah (lockdown) di New Delhi, India, Minggu (29/3/2020). Pemerintah India pada 24 Maret lalu mulai memberlakukan lockdown selama 21 hari di seluruh wilayah negara itu dalam upaya mengendalikan penyebaran COVID-19.

Geeta dan keluarganya tinggal di lingkungan miskin yang disebut mohalla, sebuah daerah pinggiran.

Hari-hari Geeta biasanya dilalui dengan berjalan kaki mengambil air, memasak, dan menunggu anak-anaknya pulang sekolah.

“Tetapi sekarang berubah setelah sekolah ditutup. Anak-anak sekarang selalu di rumah dan mulai jadi sasaran kemarahan ayahnya,” katanya.

Suaminya menjadi gampang marah karena hal-hal kecil, termasuk saat anak-anaknya tidak bisa diam.

“Saya berusaha mengalihkan perhatiannya agar ia tidak marah ke anak-anak. Tapi, makin lama kami selalu di rumah, makin sulit mengalihkan perhatiannya,” katanya.

Baca juga: Kasus Kekerasan Rumah Tangga di Australia Meningkat Terkait Virus Corona

Kai, New York, Amerika Serikat

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kai merupakan remaja yang sekarang ini terpaksa tinggal dengan ayahnya. Sebelumnya, ia tinggal bersama sang ibu, namun setelah toko tempat ibunya bekerja ditutup, kini penyakit mental ibunya kambuh lagi.

Pengantar barang mengendarai sepedanya menyeberangi 7th Avenue di kawasan Times Square yang kosong akibat meluasnya penularan virus COVID-19, di wilayah Manhattan, New York, Amerika Serikat, Senin (23/3/2020).ANTARA FOTO/REUTERS/CARLO ALLEGR Pengantar barang mengendarai sepedanya menyeberangi 7th Avenue di kawasan Times Square yang kosong akibat meluasnya penularan virus COVID-19, di wilayah Manhattan, New York, Amerika Serikat, Senin (23/3/2020).

Ibunya lalu meminta Kai sementara tinggal dulu bersama ayahnya, padahal selama bertahun-tahun ia menjadi korban kekerasan fisik dan seksual dari pria yang dipanggilnya ayah itu.

“Saat aku kembali ke rumah ini, otakku seakan mati. Semua hal, perasaanku seolah mati,” katanya.

Ibu Kai kehilangan pekerjaan dan penghasilan sehingga ia menjadi depresi. Ia lalu meminta Kai meninggalkan rumah dan kembali ke ayahnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.