Berkebun Selama Masa Karantina Bisa Jadi Cara Hilangkan Stres

Kompas.com - 21/04/2020, 19:17 WIB
Ilustrasi berkebun Shutterstock.comIlustrasi berkebun

KOMPAS.com - Pada masa perang Dunia ke II berkebun, yang bisa dibilang hobi favorit Inggris, menjadi metode bertahan hidup.

Kebun dan taman diubah menjadi hal yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan saat itu, Keluarga Kerajaan ikut serta, mengubah tempat tidur mawar menjadi ladang untuk bawang.

Sementara itu, psikolog Sue Stuart-Smith percaya, bahwa berkebun dan menanam makanan kita sendiri dapat membantu kesehatan mental kita selama masa karantina ini.

Baca juga: Terapi Berkebun Bantu Redakan Stres hingga Depresi

Hari ini, hampir delapan dekade perang Dunia ke II berlalu, kita menghadapi krisis yang sangat berbeda.

Namun beberapa masyarakat tetap melakukan panic buying dan berbelanja online meskipun pemerintah menyarankan sebaliknya, dan makanan tidak langka.

Tetapi ruang hijau sekali lagi penting untuk mendukung kesehatan psikologis kita. Psikolog Dr. Sue Stuart-Smith, setuju akan pernyataan tersebut.

Sebagai penulis buku The Well-Gardened Mind, yang mengeksplorasi banyak cara di mana berkebun, sepanjang sejarah, telah digunakan sebagai terapi medis.

Ada bukti ilmiah yang mencolok tentang manfaat kesehatan mental hortikultura. Dan Dr Stuart-Smith mengatakan keinginan kita untuk menumbuhkan tanaman tidak pernah lebih nyata daripada saat sebelum keadaan menjadi seperti saat ini.

Baca juga: Kenali Gejala Stres Selama Masa Karantina di Rumah Saja

Sebuah contoh ekstrem dapat dilihat dalam kisah-kisah tentara yang membuat kebun di parit selama Perang Dunia Pertama. Mereka menanam sayuran untuk dimakan, dan bunga juga.

“Tentara di kedua sisi menulis di rumah meminta benih, morning glory, nasturtium dan marigold. Melihat hal-hal yang akrab tumbuh, di tengah ketakutan dan gangguan seperti itu, akan sangat meyakinkan,” ujar Sue.

Sue menambahkan, setelah bencana alam, orang juga beralih menanam. Para psikolog telah mempelajari bagaimana, setelah angin topan di AS dan Haiti, proyek-proyek berkebun komunitas didirikan dan membantu memulihkan normalitas dan rasa ketahanan.

“Putraku, yang adalah seorang arsitek, mengunjungi Fukushima, di Jepang, setelah tsunami yang melanda pada tahun 2011. Dia melihat orang-orang di perumahan darurat menanam tanaman dalam kaleng, atau wadah apa pun yang bisa mereka dapatkan dengan tangan mereka,” ungkap Sue.

Baca juga: Bikin Kue, Cara Enak Hilangkan Stres Selama Pandemi

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X