Kompas.com - 28/04/2020, 19:19 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com - Masyarakat dihebohkan dengan adanya impor jamu dari China yang didonasikan ke rumah sakit rujukan Covid-19 di Indonesia, oleh Satgas Lawan Covid-19 DPR RI.

Baca juga: Pengusaha Jamu Protes Satgas Lawan Covid-19 DPR Impor Jamu dari China

Hal ini kontan menjadi perbincangan di media sosial.

Ada tiga jenis obat tradisional yang didonasikan. Satu di antaranya tidak disertai informasi komposisi.

Sementara, dua lainnya setelah dikaji diketahui berkhasiat untuk mengobati masuk angin dan flu.

Hal itu diungkapkan Konsultan Herbal sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Inggrid Tania, M.Si.

Baca juga: Waspadai, Bahaya Minum Jamu Diet di Bulan Puasa

"Dua produk lain yang bermerek, setelah saya kaji dari komposisinya adalah herbal untuk masuk angin dan flu," kata Tania dalam sesi Kulwap Media, Selasa (28/4/2020).

Karena diklaim efektif, sebagian masyarakat memburu obat-obat herbal China tersebut secara online maupun offline.

Alhasil, produk itu laris manis di pasaran, hingga bahkan memicu munculnya merek-merek palsu.

Selain menimbulkan kegaduhan, tiga obat herbal tersebut juga hanya berlandaskan testimoni.

Menurut Tania, jika testimoni dijadikan dasar untuk pengobatan Covid-19, ada banyak jenis herbal tradisional Indonesia yang juga memiliki khasiat serupa.

Khasiatnya dalam menyembuhkan pasien Covid-19 bahkan sudah banyak diberitakan di media.

Misalnya, Wali Kota Bogor Bima Arya yang mengonsumsi rebusan daun sirih atau beberapa pasien lainnya yang mengonsumsi empon-empon.

Baca juga: Ragam Manfaat Konsumsi Jamu di Bulan Puasa

"Jadi, yang dipertanyakan oleh khayalak mengapa Satgas DPR mendonasikan herbal China?"

"Kenapa tidak herbal Indonesia karena kan banyak sekali yang formulanya untuk masuk angin dan flu," ungkap Tania.

Kandidat doktor Filsafat Ilmu Pengobatan Tradisional Indonesia itu menambahkan, obat yang digunakan untuk pengobatan di rumah sakit harus melalui uji klinis terlebih dahulu.

Tidak hanya berdasarkan testimoni, kata dia.

"Saya bersama teman-teman LIPI, UGM dan Kalbe Farma sedang mengupayakan."

"Kami sedang mengurus perizinan uji klinis, tapi kan tetap butuh waktu karena ada prosedur birokrasi dan perizinan yang harus dilalui," ungkap Tania.

Tania menyebutkan, sebetulnya herbal tradisional Indonesia berpotensi membantu kesembuhan Covid-19.

Baca juga: Kesaksian Bima Arya yang Sembuh dari Virus Corona

Peneliti gabungan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI), misalnya, beberapa waktu lalu mengembangkan senyawa dari jambu biji, kulit jeruk, dan daun kelor sebagai antivirus corona.

"Kemudian ada potensi antivirus dari sambiloto dan lain-lain, banyak sekali herbal yang berpotensi," papar dia.

"Tapi kembali lagi, perlu dibuktikan dengan uji klinik pada pasiennya langsung lewat prosedur penelitian baku, bukan sekadar uji coba pakai dan dikasih sekadar testimoni," tegas Tania lagi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X