Kompas.com - 03/05/2020, 15:03 WIB

KOMPAS.com – Menjalankan puasa di bulan Ramadhan, bukan berarti berhenti berolahraga. Kita tetap dianjurkan berolahraga, dengan memerhatikan beberapa hal.

Ahli Ilmu Faal Olahraga Klinis Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Deta Tanuwidjaja memberikan penjelasan.

Menurut dia, ada tiga efek dari olahraga ketika berpuasa, yakni ancaman hipoglikemia, ancaman dehidrasi, dan ambang laktat yang mudah tercapai.

“Hipoglikemia adalah penurunan kadar gula darah dalam tubuh."

Baca juga: Jangan Olahraga Berlebihan Selama Masa Karantina, Apa Alasannya?

"Penurunan gula darah ini menyebabkan tubuh mudah lemas, gemetar, hingga berkeringat dingin,” ujar Deta dikutip dari laman Unpad, Sabtu (2/5/2020).

Sementara, ancaman dehidrasi merupakan kondisi tubuh yang mulai kekurangan cairan.

Kondisi dehidrasi, masih bisa ditoleransi asalkan dipertahankan di bawah kebutuhan hidrasi, yaitu di bawah tiga persen dari total cairan tubuh, serta mendekati waktu hidrasi.

Adapun ambang laktat merupakan kondisi peredaran darah mulai jenuh, sehingga otot tubuh akan menjadi lelah.

Pada saat puasa, ambang laktat akan lebih mudah tercapai.

Nah, untuk mengantisipasi tiga efek tersebut, ada sejumlah waktu yang disarankan untuk berolahraga saat berpuasa.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.