Kompas.com - 05/05/2020, 10:17 WIB
Ilustrasi serangan jantung.
Ilustrasi serangan jantung.
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Istilah sindrom koroner akut mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Sindrom koroner akut adalah suatu kondisi di mana aliran darah berkurang ke jantung secara tiba-tiba.

Gejalanya yang mirip dengan masuk angin, seringkali membuat orang-orang keliru mengidentifikasinya. Oleh sebab itu, perhatikan hal berikut untuk mengenali sindrom koroner akut secara lebih jelas.

Sindrom koroner akut terjadi karena adanya penyumbatan pada arteri koroner, yang berfungsi untuk mengirimkan oksigen dan nutrisi ke otot jantung.

Ketika tersumbat, fungsi jantung dapat terganggu, bahkan bisa menyebabkan angina atau serangan jantung. Penyumbatan tersebut bisa terjadi dalam satu waktu, atau datang dan pergi selama periode waktu tertentu.

Arteri dapat tersumbat atau menyempit karena adanya penumpukan plak di sepanjang dindingnya. Plak ini berisi LDL(kolesterol jahat), lemak, sel darah putih, dan zat lain.

Plak tersebut dapat tumbuh dalam jumlah banyak sehingga hanya ada sedikit ruang bagi darah untuk mengalir melalui arteri, bahkan benar-benar bisa menghentikan aliran darah.

Bukan hanya itu, plak juga bisa pecah dan menumpahkan isinya ke dalam arteri sehingga membentuk gumpalan darah.

Jika gumpalan yang ada berukuran cukup besar, maka dapat menyumbat pembuluh darah yang menyebabkan pasokan oksigen ke sel-sel otot jantung terlalu rendah. Hal ini berpotensi membahayakan nyawa.

Di samping itu, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan  terkena sindrom koroner akut, yakni berusia di atas 45 tahun, tekanan darah tinggi atau kolesterol, merokok, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, obesitas, diabetes, dan riwayat keluarga.

Baca juga: Cegah Penyakit Jantung Koroner dengan Gaya Hidup Sehat Sejak Dini

Gejala sindrom koroner akut

Pada umumnya, gejala sindrom koroner akut dimulai dengan cepat, bahkan terkadang tanpa adanya tanda-tanda apa pun. Nyeri dada atau rasa tidak nyaman seperti tertindih beban berat menjadi gejala utama sindrom koroner akut.

Gejala ini berbeda dengan nyeri dada akibat heartburn atau setelah olahraga berat. Rasa nyeri dapat meluas dari satu sisi dada ke sisi dada yang lain. Beberapa gejala lain yang mungkin terjadi, yaitu:

  • Rasa sakit atau tidak nyaman pada dada yang menjalar ke lengan, punggung, rahang, leher, atau perut
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Gangguan pencernaan
  • Mual atau muntah
  • Berkeringat
  • Sakit kepala
  • Kelelahan yang tak biasa
  • Merasa gelisah.

Seringkali gejala yang terjadi disalahartikan sebagai masuk angin. Apabila Anda merasakan gejala tersebut, segera panggil darurat medis karena kondisi ini bisa mengancam nyawa.

Akan tetapi, gejala yang ada pada setiap individu juga dapat bervariasi, tergantung pada usia, jenis kelamin, dan kondisi medis lainnya.

Baca juga: Belajar dari Didi Kempot, Kenali 8 Gejala Awal Serangan Jantung

Pengobatan sindrom koroner akut

Karena sindrom koroner akut merupakan kondisi darurat medis, kondisi ini harus segera mendapatkan penanganan.

Pengobatan dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit dan melancarkan aliran darah agar bisa memulihkan fungsi jantung secepat mungkin.

Untuk jangka panjang, pengobatan dilakukan guna meningkatkan fungsi jantung secara keseluruhan, mengelola faktor risiko, dan menurunkan risiko serangan jantung. Pengobatan mungkin akan melibatkan obat-obatan, seperti:

  • Trombolitik: membantu menghancurkan gumpalan darah yang menghalangi arteri.
  • Nitrogliserin: meningkatkan aliran darah dengan memperlebar pembuluh darah sementara.
  • Obat antiplatelet: membantu mencegah pembentukan gumpalan darah.
  • Beta blocker: membantu mengendurkan otot jantung dan menurunkan tekanan darah.
  • Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor: memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah.
  • Angiotensin receptor blockers (ARBs): membantu mengontrol tekanan darah.
  • Statin: menurunkan jumlah kolesterol yang bergerak dan mengecilkan timbunan plak.

Jika obat-obatan gagal mengatasi masalah yang ada, prosedur bedah tertentu, seperti angioplasti, intervensi koroner primer, atau bypass koroner mungkin diperlukan. Hal ini dilakukan agar nyawa bisa terselamatkan.

Baca juga: 11 Faktor Ini Bisa Menjadi Penyebab Penyakit Jantung

Sementara itu, sindrom koroner akut dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat. Jalani gaya hidup sehat berikut untuk mencegah terjadinya sindrom koroner akut:

  • Mengikuti diet yang menyehatkan jantung dengan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan protein tanpa lemak.
  • Biasakan untuk tidak merokok dan membatasi minum alkohol.
  • Melakukan olahraga secara teratur minimal 2-3 jam dalam seminggu agar tetap bugar.
  • Rutin memeriksakan tekanan darah dan kolesterol agar dapat mengontrolnya dalam kisaran normal.

Dengan melakukan perubahan gaya hidup sehat, Anda dapat mencegah munculnya sindrom koroner akut. Apalagi jika Anda memiliki faktor risiko, maka perubahan gaya hidup ini perlu benar-benar diaplikasikan. Yuk, kita mulai hidup sehat!

Baca juga: Yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Penyakit Jantung

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.