Konsumsi Vitamin D Bisa Pengaruhi Angka Kematian Covid-19

Kompas.com - 09/05/2020, 08:51 WIB
Seorang ibu menjemur kedua anaknya di bawah sinar matahari saat Self Isolation atau tinggal di rumah di Medan, Sumatera Utara, Minggu (22/3/2020). Berjemur diri di bawah matahari di antara pukul 08.00 WIB-11.00 WIB merupakan salah satu upaya yang paling sederhana untuk menjaga kesehatan selama wabah virus COVID-19. ANTARA FOTO/SEPTIANDA PERDANASeorang ibu menjemur kedua anaknya di bawah sinar matahari saat Self Isolation atau tinggal di rumah di Medan, Sumatera Utara, Minggu (22/3/2020). Berjemur diri di bawah matahari di antara pukul 08.00 WIB-11.00 WIB merupakan salah satu upaya yang paling sederhana untuk menjaga kesehatan selama wabah virus COVID-19.

KOMPAS.com - Tim peneliti menemukan hubungan kuat antara kekurangan vitamin D dan tingkat kematian dari virus corona. 

Pasien di negara-negara dengan tingkat kematian Covid-19 yang tinggi, seperti Italia, Spanyol dan Inggris, umumnya memiliki tingkat vitamin D lebih rendah dibandingkan pasien di negara-negara yang tidak terdampak parah.

Demikian temuan dari tim peneliti dari Northwestern University. Mereka menganalisis data dari rumah sakit dan klinik di China, Prancis, Jerman, Italia, Iran, Korea Selatan, Spanyol, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat.

Para peneliti juga menemukan hubungan kuat antara kadar vitamin D dan badai sitokin, kondisi hiperinflamasi yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif ketika terinfeksi Covid-19.

"Badai sitokin sangat merusak paru-paru dan menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut dan kematian pada pasien."

Begitu kata Ali Daneshkhah, peneliti postdoctoral di McCormick School of Engineering Northwestern, dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Vitamin D Mencegah Tubuh Terinfeksi Virus Corona, Benarkah?

"Inilah yang tampak menyebabkan sebagian besar pasien Covid-19 meninggal, jadi bukan rusaknya paru-paru oleh virus. Ini adalah komplikasi atas apa yang salah dari sistem kekebalan tubuh."

Namun, para ilmuwan juga mengingatkan agar kita tidak bergantung pada suplemen vitamin D saja.

"Meski saya pikir penting bagi orang untuk mengetahui kekurangan vitamin D dapat berperan dalam kematian, kita tidak perlu mendorong konsumsi vitamin D pada semua orang," kata Vadim Backman dari Northwestern, pemimpin studi.

Para ilmuwan mengatakan, mereka perlu melakukan lebih banyak penelitian guna memahami bagaimana vitamin D dapat digunakan dalam memberikan perlindungan terhadap komplikasi Covid-19.




Sumber FOXNEWS
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X