Bagaimana Menumbuhkan Anak yang Optimistis di Dunia yang Pesimistis?

Kompas.com - 11/05/2020, 17:16 WIB
/Ilustrasi Shutterstock/Ilustrasi

KOMPAS.com - Mungkin mudah untuk berfokus pada hal-hal negatif yang terjadi di dunia dan apa yang harus kita khawatirkan, terutama sebagai orangtua.

Berkat siklus berita 24 jam, media sosial, pemberitahuan di ponsel, dan bahkan sumber yang tidak kita harapkan, seperti Instagram dan YouTube, kita semua terbenam dalam berita.

Dapat dimengerti jika kamu tidak bisa menunjukkan wajah bahagia setiap hari dan merasa sulit menjaga anak-anak agar tetap optimistis tentang masa depan.

Baca juga: Bisakah Mengubah Sikap Pesimis Menjadi Optimis?

Namun, jangan menyerah. Ironisnya, meskipun media dan teknologi tampaknya menjadi penyebab kita bersikap pesimistis, mereka juga penting untuk kita mengatasi rasa pesimistis tersebut, dengan menggunakannya secara bijak atau mengetahui kapan harus menghindarinya.

Berikut adalah enam cara untuk membantu keluarga menemukan harapan dan tetap optimisme di tengah pandemi.

1. Tempatkan hal-hal dalam perspektif

Ketika tragedi menyerang suatu tempat di dunia, kita menghidupkannya kembali setiap kali kita menyalakan TV, membuka media sosial kita, memeriksa notifikasi telepon kita atau melihat tajuk sensasional.

Bagaimana kita merespons berita juga membuat perbedaan pada cara anak-anak memprosesnya.

Bantu anak-anak meletakkan segala sesuatunya dalam perspektif dengan menjelaskan bahwa suara paling keras menangkap paling banyak pendengar dan kamu harus selalu melakukan riset sendiri.

Ketika kamu mengukur dengan benar tentang berbagai hal, itu mengurangi ketakutan anak-anak dan mengembalikan harapan mereka.

2. Bicara tentang apa yang kamu syukuri

Karakter yang kuat menjadi dasar bagi anak-anak ketika dunia terasa kacau. Luangkan waktu untuk membagikan apa yang kamu syukuri dan minta mereka berpartisipasi juga.

Imbaulah mereka untuk tekun melawan rintangan dan memiliki belas kasihan terhadap orang lain.

Penelitian menunjukkan, bahwa mengungkapkan rasa terima kasih sebenarnya membuat orang merasa optimistis. Cobalah tonton film-film yang memiliki kisah tentang pembangunan karakter untuk memulai percakapan.

Baca juga: 10 Kebiasaan Sehat yang Harus Diajarkan Orangtua pada Anak

3. Lawan berita palsu

Banyak anak mengatakan, mereka tidak bisa membedakan antara apa yang nyata dan palsu di dunia online.

Kebingungan, keraguan, kurangnya kepercayaan adalah segala hal yang menghalangi optimisme. Tetapi, anak-anak memiliki alat untuk melawan berita palsu.

Mereka dapat menggunakan alat pengecekan fakta online untuk menemukan kebenaran (atau setidaknya mengungkap penipuan).

Selain itu, mereka dapat menolak untuk berkontribusi dalam penyebaran informasi palsu dengan tidak membagikan hal-hal yang tidak dapat mereka verifikasi dan dapat menyebut klaim yang meragukan ketika mereka melihatnya.

Ada baiknya kamu turun tangan langsung akan hal ini, dan membantu mereka mencari tahu akan berita yang benar dan valid.

4. Lawan para pengganggu

Ketika mereka melihat seseorang diintimidasi dan itu terjadi setiap saat di dalam teks, di media sosial, dan di game online, mereka tidak seharusnya hanya diam saja.

Meskipun mereka tidak boleh melakukan apa pun yang dapat membahayakan diri mereka sendiri, mereka dapat melakukan banyak hal untuk menegaskan dukungan mereka terhadap orang lain.

Mereka dapat melaporkannya, membela korban, atau hanya mengirim pesan pribadi kepada korban dan memberi tahu mereka bahwa ada yang peduli.  

Artinya, mereka benar-benar belajar bahwa setiap orang tanggung jawab untuk menjaga internet menjadi tempat yang positif dan produktif.

Berdiri melawan cyberbullies menunjukkan bahwa kita yakin bisa melakukan perubahan.

Baca juga: 7 Tanda Masalah Mental pada Anak yang Harus Diwaspadai Selama Pandemi

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Motherly
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X