Jepang Siap Uji Coba Pengobatan Covid-19 Pakai Darah Pasien Sembuh

Kompas.com - 14/05/2020, 10:48 WIB
Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19. Ilustrasi peneliti mengambil plasma darah dari pasien yang sembuh dari Covid-19.

KOMPAS.com - Pengobatan Covid-19 menggunakan antibodi dari darah pasien yang sudah sembuh dianggap cukup menjanjikan. Perusahaan farmasi Jepang, Takeda Pharmaceutical, sedang bersiap untuk melakukan ujicoba pengembangan obat ini.

Uji klinis yang akan dilakukan pada Juli mendatang ini akan melibatkan ratusan pasien dan membutuhkan beberapa bulan untuk menyelesaikannya.

Jika berhasil, Takeda Jepang dapat mengajukan persetujuan kepada otoritas di Amerika Serikat tahun ini.

"Kapan produk akan tersedia di luar studi klinis masih agak tidak pasti," kata salah satu pejabat di Takeda, Julie Kim, seperti dilansir CNBC.

"Tapi kami berharap sebelum akhir tahun. Kita harus melihat beberapa informasi dalam hal penggunaan yang lebih luas," ujarnya.

Mengobati penyakit dengan darah dari pasien yang sudah sembuh ke pasien yang masih sakit adalah strategi kuno, namun belum diuji dengan baik untuk virus corona yang kini sudah menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Antibodi dari Plasma Darah Pasien Corona Efektif Deteksi Covid-19, Ini Penjelasannya

Beberapa rumah sakit telah mengumpulkan plasma darah dari pasien yang pulih dan memasukkannya ke dalam orang yang sakit dengan virus corona, tetapi keampuhannya masih dipelajari.

Pengobatan yang diusulkan Takeda menawarkan dosis antibodi standar. Cara ini juga memiliki usia penyimpanan yang jauh lebih lama daripada plasma darah yang tidak diproses dan tidak terbatas pada pasien dengan golongan darah yang cocok.

Hingga kini, belum ada pengobatan untuk Covid-19 yang telah disetujui oleh U.S Food and Drug Administration.

Namun, beberapa obat seperti remdesivir telah menerima otorisasi darurat dari regulator.

Baca juga: Menilik Kandidat Terkuat Obat Infeksi Covid-19

Jumlah pasien yang dapat dibantu oleh pengobatan Takeda (sementara disebut TAK-888), sebagian tergantung pada ketersediaan donor darah, kata Kim dalam wawancara dengan Reuters.

"Ini sumber daya yang langka. Antibodi tidak bertahan selamanya dan kita harus mengamankan orang-orang dalam waktu itu. Ini tergantung perkembangan Covid-19 di berbagai wilayah geografis," kata Kim.

Pihak Takeda mengatakan, pekan lalu mereka telah bergabung dengan sembilan perusahaan lain yang bekerja pada terapi berbasis plasma darah untuk mengembangkan obat Covid-19.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber CNBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X