Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Adaptasi atas "Normal Baru" dalam Pandemi Corona

Kompas.com - 18/05/2020, 11:52 WIB
Penumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPenumpang saat tiba di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (12/5/2020). PT Angkasa Pura II mengeluarkan tujuh prosedur baru bagi penumpang penerbangan rute domestik selama masa dilarang mudik Idul Fitri 1441 H di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Hal ini berbeda dengan liburan, yang dimaksudkan untuk menghindar dari rutinitas sehari-hari. Di liburan, ada sesuatu yang dipersiapkan dan direncanakan.

Baca juga: Bagi-bagi Angpao di Masa Pandemi, Ini Kata Perencana Keuangan

Pertanyaannya, berhadapan dengan lingkungan baru ini, akankah kita memilih menjadi seperti Grand?

Kemampuan adaptasi

Manusia adalah makhluk adaptif. Misalnya saja, yang dikemukakan Talcott Parsons (1951). Memang tindakan manusia ditentukan niat, nilai, ide, norma-norma tertentu.

Selain itu juga ditentukan oleh lingkungan. Ketika lingkungan berubah, tindakan juga bisa berubah. Artinya, manusia beradaptasi.

Pendeknya, manusia dimampukan untuk beradaptasi seperti yang dikatakan Schneiders (1984). Malah Saravino (2005) menganggap, penyesuaian diri terhadap lingkungan diperlukan agar organisme bertahan hidup.

Artinya, jika tidak ada adaptasi, itu justru akan membahayakan kehidupan. Setidaknya, akan mengurangi kemampuan organisme dalam bertahan hidup.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Adaptasi Warga Wuhan Jalani Hidup Normal Setelah Dua Bulan Lockdown

Hal menarik lain juga bisa didapatkan dari model adaptasi yang disampaikan Robert K Merton (1968).

Dari model itu bisa dibaca, bahwa berhadapan dengan lingkungan "baru", individu tidak hanya punya pilihan dikotomis: menerima atau menolak. Sebab, di antara itu ada yang lainnya, yakni tindakan "alternatif" dan "substitusi".

Alternatif terjadi jika dalam berhadapan lingkungan baru itu individu malah menemukan dan menentukan sendiri tujuan atau cara baru.

Dengan demikian, ketika rutinitas yang sudah berlangsung sekian lama hilang atau berubah. Hal itu justru melahirkan sesuatu hal lain yang selama ini tidak ada.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.