Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Adaptasi atas "Normal Baru" dalam Pandemi Corona

Kompas.com - 18/05/2020, 11:52 WIB
Petugas bersiap menyemprotkan cairan disinfektan di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/3/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan fasilitas umum menggunakan cairan disinfektan di lima wilayah DKI Jakarta untuk mencegah penyebaran virus Corona atau COVID-19. ANTARA FOTO/APRILLIO AKBARPetugas bersiap menyemprotkan cairan disinfektan di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (22/3/2020). Pemprov DKI Jakarta melakukan penyemprotan fasilitas umum menggunakan cairan disinfektan di lima wilayah DKI Jakarta untuk mencegah penyebaran virus Corona atau COVID-19.

Misalnya, referensi baru dalam materi perkuliahan. Bisajadi, karena rutinitas yang ada dan menjadi kebiasaan, referensi perkuliahan "begitu-begitu saja". Tidak ada hal yang baru.

Tetapi ketika rutinitas itu berubah malah ditemukan referensi baru. Sesuatu yang baru susah ditemukan karena rutinitas, sekarang malah berlimpah.

Baca juga: Belajar dari Rumah, Antara Orangtua Gagap Adaptasi dan Anak Tak Senang

Bentuk lain adaptasi adalah substitusi. Berbeda dengan alternatif, dalam substitusi umumnya tidak ada makna baru.

Ia hanya mengganti dari sebelumnya yang ada dengan cara baru. Misalnya, perkuliahan tatap muka diganti dengan kuliah online, interaksi fisik digantikan dengan interaksi lewat dunia maya.

Malah bisa jadi, bukannya menemukan hal baru, di subsitusi justru menghilangkan sesuatu yang sebelumnya ada. Misalnya saja, afeksi yang tidak ada di interaksi online.

Normal baru

Adaptasi bukan suatu hal yang bisa ditawar. Adaptasi menjadi keharusan. Apalagi, jika lingkungan baru ini gara-gara corona akan berlangsung lama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Artinya, lingkungan baru, rutinitas baru yang berbeda dengan sebelumnya menjadi "normal baru". Misalnya, yang sekarang sudah terbayang adalah kebiasaan baru, yakni cuci tangan, tidak berjabat tangan, menjaga jarak.

Tentu adaptasi terhadap normal baru itu bisa dilatih dengan berbagai hal. Misalnya, pertama, social distancing bukanlah emotional distancing. Maksudnya, meskipun hanya lewat online, tetapi bersosialisasi tetap berlangsung.

Baca juga: Melihat Penerapan New Normal di Vietnam, Jerman, dan Selandia baru

Kedua, memperluas wawasan. Ketika akitivitas fisik terbatas, janganlah itu diartikan terbatas pula aktivitas kognisi. Ketiga, mengembangkan hobi.

Hobi biasanya melibatkan imajinasi. Konon, imagination is more importance than knowledge.

Dra Ninawati, MM
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.