Kompas.com - 19/05/2020, 04:49 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

KOMPAS.com - Banyak orang memanfaatkan fitness tracker atau alat pelacak kebugaran yang disematkan di pergelangan tangan untuk mengukur detak jantung.

Lalu, apakah alat tersebut dapat mengukur detak jantung secara efektif?

Meski memakai fitness tracker di pergelangan tangan terbilang akurat, penelitian menunjukkan alat ini tidak seakurat monitor jantung yang dikenakan di dada.

Baca juga: Pertama Kali, G-Shock Bikin Jam Tangan dengan Sensor Detak Jantung

Hal itu diungkapkan Marc Gillinov, MD, Chairman of the Department of Thoracic and Cardiovascular Surgery.

Cara kerja alat pelacak denyut jantung

Monitor detak jantung yang dikenakan di dada biasa digunakan oleh pelari, pebalap sepeda jarak jauh, dan atlet lainnya.

Alat ini bekerja dengan cara mirip elektrokardiogram (EKG), yang digunakan dokter untuk tujuan diagnostik.

Kedua perangkat mendeteksi dan mengukur sinyal listrik yang dipancarkan jantung ketika berdetak.

Ketika kita melakukan EKG, elektroda melekat pada kulit dan perangkat EKG, yang merekam aktivitas listrik jantung kita. Komputer menghasilkan gambar pada kertas grafik dari informasi yang disediakan oleh elektroda.

Monitor jantung yang dikenakan di dada terdiri dari dua bagian, yaitu transmitter atau pemancar yang terpasang pada sabuk di sekitar dada, dan receiver atau penerima yang dikenakan di pergelangan tangan seperti jam tangan.

Pemancar mengambil sinyal listrik dan mengirim sinyal elektromagnetik berisi data denyut jantung ke penerima pergelangan tangan, yang menampilkan denyut jantung.

Di sisi lain, fitness tracker menggunakan sensor optik untuk mendeteksi darah yang mengalir melalui pembuluh darah kita. Alat ini memiliki beberapa kekurangan.

Contohnya, karena perangkat berada di pergelangan tangan, sensor denyut jantung optik membaca aliran darah ketika berada jauh dari jantung kita.

Akurasi fitness tracker juga dapat berkurang dengan cahaya yang mengenai sensor saat kita menggerakkan lengan atau melenturkan pergelangan tangan.

Baca juga: Ayo, Perlambat Detak Jantung demi Hidup Sehat...

Pada satu studi di tahun 2017, Dr. Gillinov dan rekan-rekan penelitinya meneliti 50 orang dewasa yang sehat.

Dr. Gillinov meminta partisipan memakai dua dari empat perangkat kebugaran yang dikenakan di pergelangan tangan dengan monitor detak jantung (satu di setiap pergelangan tangan) sembari berjalan atau berlari di treadmill.

Semua peserta juga mengenakan elektroda EKG standar dan monitor yang dikenakan di dada.

Denyut jantung diukur dengan peserta beristirahat dan berjalan atau berlari di treadmill dengan berbagai kecepatan.

Para peserta berolahraga selama tiga menit di setiap pengaturan, dengan detak jantung dicatat pada titik tiga menit.

Kecepatan denyut jantung yang kembali normal juga diukur pada 30 detik, 60 detik, dan 90 detik usai berolahraga.

Para peneliti menemukan, pembacaan paling akurat berasal dari perangkat yang dikenakan di dada, kata Dr. Gillinov.

Studi lain juga mengungkap, fitness tracker sedikit mengabaikan detak jantung, dan keakuratannya berkurang selama berolahraga.

Baca juga: 7 Hal Ini Mungkin merupakan Gejala Penyakit Jantung

Fitness tracker tidak bisa menggantikan EKG

Fitness tracker yang dikenakan di pergelangan tangan baik untuk pemakaian harian, kata Dr. Gillinov.

Namun, perangkat ini tidak akan menggantikan EKG dalam pengaturan medis.

Dr. Gillinov mengatakan, pasien jantung yang ingin memastikan jantung mereka tetap dalam batas aman selama rehabilitasi dan olahraga akan lebih baik menggunakan perangkat yang dikenakan di dada untuk informasi akurat.

"Perangkat kebugaran yang dikenakan di pergelangan tangan yang mencakup monitor detak jantung sangat populer," kata Dr. Gillinov.

Baca juga: Mengapa Harus Menjaga Kesehatan Jantung Selama Pandemi Covid-19?

"Tetapi jika kita benar-benar ingin tahu detak jantung kita, kenakan monitor jantung tali dada karena itu membuat kita merasakan arus listrik."

Jika kita masih ingin menggunakan fitness tracker, Dr. Gillinov menyarankan untuk melakukan beberapa pengukuran guna mendapatkan hasil paling akurat.

"Jangan terlalu bergantung pada satu atau dua hasil pengukuran," tutur dia.

"Lakukan beberapa pengukuran karena kita tidak dapat mengandalkan perangkat ini agar akurat setiap saat."

Baca juga: 5 Cara Efektif Cegah Serangan Jantung



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X