Kompas.com - 21/05/2020, 23:23 WIB

Ada "gray area"

Dalam model penanggulangan penyakit menular yang sempurna, semua orang akan tinggal di rumah dan hanya bersosialisasi dengan anggota keluarga di rumah tersebut. Namun, realitanya tidak demikian.

Pelanggaran jarak sosial, seperti mengadakan pesta di rumah atau pergi ke tempat yang ramai orang, jelas merupakan ide buruk.

Tapi ada banyak gray area. Apakah berjalan di luar dengan tetap menerapkan jarak sosial dinilai salah? Jika kita hidup sendiri, bisakah kita bertemu teman? Apakah ada cara bertanggung jawab untuk tinggal bersama keluarga?

Ada pula konsekuensi kesehatan mental yang perlu dipertimbangkan. Isolasi dapat berdampak serius pada kesehatan mental, terutama bagi mereka yang sudah menderita kondisi seperti depresi dan kecemasan.

Pengangguran, isolasi dan hal-hal terkait pandemi Covid-19 dapat menyebabkan sekitar 75.000 kematian karena putus asa di AS, menurut laporan baru-baru ini.

Baca juga: Social Distancing karena Corona, Jangan Lupa Jaga Kebersihan Rumah

Bagaimana kita membandingkan hal itu dengan risiko penyebaran penyakit menular yang mematikan?

Sejumlah ahli menganjurkan pendekatan seperti pengurangan dampak buruk terhadap jarak sosial, gagasan meminimalkan konsekuensi negatif dari perilaku yang berpotensi berisiko.

Itu berarti, kita mengajarkan bagaimana melihat orang yang mereka cintai dalam kondisi aman, daripada mengatakan pada mereka untuk tidak bersosialisasi sama sekali dan berharap mereka mendengarkan.

"Kami telah memikirkan tentang jarak sosial dengan cara ini atau tidak sama sekali," kata Julia Marcus, asisten profesor kedokteran populasi di Harvard Medical School.

"Orang-orang sudah membuat pilihan tentang cara menavigasi risiko," katanya.

"Pendekatan pengurangan dampak buruk akan memberi mereka alat yang mereka butuhkan untuk mengurangi risiko sebanyak mungkin."

Meskipun ada beragam pendapat di kalangan profesional kesehatan tentang seberapa besar risiko dapat diterima, sebagian besar setuju sejumlah bentuk sosialisasi lebih aman dibandingkan yang lain.

Meminimalkan risiko di luar rumah

Banyak ahli belum mengetahui bagaimana Covid-19 menyebar.

Namun Dr. Kelly Michelson, direktur Center for Bioethics and Medical Humanities di Northwestern University Feinberg School of Medicine, punya anggapan berbeda.

Ia menyebut, sebagian besar penelitian menunjukkan, kita cenderung tidak terpapar atau menularkan virus jika berada di luar rumah, mengenakan masker, dan menjaga jarak dari orang lain.

Beberapa jenis interaksi luar ruang juga lebih baik daripada yang lain, kata Farley.

Seperti memasak, di mana orang menyentuh peralatan yang sama atau makan dari tempat yang sama akan berisiko lebih tinggi, daripada mereka yang berjalan kaki di luar dengan menerapkan jarak sosial.

Patricia Rieker, sosiolog medis di Boston University, menambahkan pertemuan satu demi satu lebih aman daripada pertemuan kelompok.

Ia mengundang teman ke area luar gedung kondominiumnya di akhir pekan, setelah membersihkan kursi mereka dan menempatkannya sejauh tiga meter dan temannya masuk ke area umum tanpa memasuki rumahnya. Mereka juga memakai masker.

"Butuh waktu 45 menit untuk menyiapkan hal itu dengan aman," kata Rieker.

"Kita tidak dapat melakukan apa pun dengan cara yang saya sebut spontan."

Baca juga: Masker Wajah Tidak Dapat Menggantikan Social Distancing

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.