Mengapa Anak Terus Menempel dan Bersikap Manja Selama Masa Karantina?

Kompas.com - 22/05/2020, 08:15 WIB
Ilustrasi ibu dan anak shutterstockIlustrasi ibu dan anak

KOMPAS.com - Ketika semua aktivitas diakukan dari rumah selama masa pandemi Covid-19, ini berarti waktu bersama anak di rumah semakin banyak.

Kita dengan mudah makan bersama di meja makan, mencuri waktu bermain bersama anak saat jam kerja, menemani anak mengerjakan tugas sekolah, dan berbagai hal lain yang biasanya sulit dilakukan bersama saat harus pergi ke kantor.

Namun, semakin sering bersama, mengapa anak justru semakin menempel dan sering mencari perhatian orangtuanya ya?

Baca juga: Kewalahan Dampingi Anak Sekolah dari Rumah? Lakukan 9 Tips Ini

Pertanyaan tersebut mungkin pernah muncul belakangan ini di benak kita.

Hal itu juga membuat kita sebagai orangtua khawatir, bagaimana menghadapi tingkah laku anak yang tampak selalu haus perhatian dan lebih manja kepada orangtuanya, setelah pandemi berakhir?

Berikut lima hal yang harus diperhatikan saat anak lebih lengket dan manja pada orangtua selama masa karantina ini:

1. Anak bergantung karena rasa aman

Menurut Steven Meyers, profesor psikologi di Roosevelt University di Illinois, AS, salah satu alasan utama mengapa anak semakin menempel dan ketergantungan pada orangtua adalah karena mereka berusaha membuat diri mereka aman dan nyaman.

"Ketergantungan adalah respons naluriah terhadap ancaman dan kecemasan yang dirasakan," ujar Meyers kepada HuffPost.

"Dalam istilah evolusi, keturunan semua spesies lebih mungkin bertahan jika mereka dekat dengan orangtua mereka untuk perlindungan ketika bahaya mendekat."

Baca juga: Perhatikan, 3 Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Anak

"Anak-anak ini disandikan ke dalam biologi mereka, dan itu dapat dipicu tekanan dan ketidakpastian pandemi global."

Dengan demikian, sikap manja mereka adalah manifestasi nyata dari upaya anak untuk mengatasi semua perubahan dan ketidakpastian di dunia saat ini.

Untuk membantu, cobalah mencari sumber dari kegelisahan mereka.

"Pertanyaannya, apa sebenarnya yang mereka khawatirkan? Mengidap penyakit? Kematian? Seperti banyak hal lainnya, ketergantungan harus dipahami dalam konteks."

Demikian kata Mark Reinecke, psikolog klinis dan direktur klinis Child Mind Institute's San Francisco Bay Area Center.

Baca juga: Bagaimana Menumbuhkan Anak yang Optimistis di Dunia yang Pesimistis?

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X