DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Dipaksa, Terpaksa, Lalu Bisa, Kemudian Biasa hingga Jadi Budaya

Kompas.com - 03/06/2020, 09:15 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

 

Dengan memahami prosentase segmentasi literasi publik, maka sudah waktunya teknik komunikasi efektif diberlakukan secara dinamis.

Tidak mungkin bicara soal protokol kesehatan di tengah hiruk pikuk para pedagang pasar yang berpeluh sepanjang hari.

Apalagi, mereka dipaksa menggunakan masker tanpa paham duduk perkaranya.

Bahkan ada yang protes keras,”Kami di sini semua sehat, tidak ada satu pun pedagang yang digotong pingsan sesak napas. Justru gara-gara masker ini napas kami jadi tidak leluasa, malah bikin ‘engap’…”

Dan akhirnya pedagang kucing-kucingan dengan petugas. Begitu pula dengan protokol jaga jarak fisik.

Salah seorang pengunjung mini market pernah menyeletuk,”Ini gang antar rak saja cuma muat satu-setengah badan orang dewasa. Mau jaga jarak gimana? Giliran masuk mini marketnya? Dan satu gang antar rak hanya boleh dilalui pembelanja yang jalannya satu jalur, tidak boleh saling berlawanan? Mau belanja aja kok ribet ya?”

Apabila orang-orang ini punya kekuasaan, bisa jadi mereka akan bertingkah seperti Presiden Amerika Serikat yang hingga kini pantang menggunakan masker, bahkan masih berjabatan tangan di tengah pengumuman darurat nasional yang dinyatakannya sendiri.

Baca juga: Radikal atau Rasional: Ekstrim atau Lazim?

Barangkali, jika kita ingin meniru kebiasaan bermasker seperti penduduk Korea Selatan, ada beberapa hal yang perlu dicermati.

Korea Selatan itu luas, lho. Jadi patokan kita tidak boleh hanya distrik Gangnam di tengah kota Seoul.

Coba kita lirik pedesaan dan daerah-daerah padat penduduk di pesisir pantai, yang logatnya saja jauh berbeda dengan para artis drama rating tertinggi.

Satu hal lagi yang tak boleh luput: ketertiban antri, tidak berkerumun – dimungkinkan karena adanya jaminan: bahwa keadilan dan pemerataan terjamin.

Yang antri paling belakang, masih mendapatkan hak yang sama seperti yang ada di baris paling depan.

Kata ‘patuh’ masih ampuh di negri kita. Sekali pun rupanya dalam wajah persuasif. Mirip seperti membujuk anak balita agar mau menghabiskan sarapannya.

Dan si anak balita akan tetap mengandaikan sarapan itu keharusan, minimal untuk membuat ibunya senang dan tidak dimarahi, serta boleh bermain lagi setelah selesai makan.

Tidak mudah membuat balita paham mengapa ia perlu sarapan. Tapi, bukan berarti balita tidak bisa dibuat jadi paham.

Butuh upaya lebih cerdik, keterampilan sambung nalar – yang tidak cukup hanya dengan membujuk.

Prinsipnya, balita pun makhluk hidup yang bisa belajar dari pengalaman. Tinggal masalahnya, proses usai makan tidak berlanjut. Makanya ia tak pernah paham.

Baca juga: Bagaimana Kita Pasca Pandemi, Tergantung Kita Hari Ini

Halaman Selanjutnya
Halaman:


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.