Dipaksa, Terpaksa, Lalu Bisa, Kemudian Biasa hingga Jadi Budaya

Kompas.com - 03/06/2020, 09:15 WIB
Ilustrasi new normal SHUTTERSTOCK/ MIA StudioIlustrasi new normal

 

Hal yang sama dengan membuat perilaku terpaksa bisa diinternalisasikan menjadi kebiasaan dan budaya baru. Hal-hal yang tadinya perlu dilakukan dengan sadar, akhirnya menjadi perilaku otomatis.

Yang menjadi repot, memang perilaku baru itu amat melawan arus. Cipika-cipiki berubah menjadi jarak 1.5 meter, makan di kantor sendiri-sendiri tanpa berbagi lauk apalagi saling menyuap.

Abang penjual cimol atau mi ayam terpaksa ditinggalkan, karena jauh dari protokol kesehatan. Tak mungkin si penjual mencuci tangan berulang kali di pinggir jalan dengan sabun dan air mengalir.

Mangkuk-mangkuk dan sendok bekas pelanggannya saja selama ini dibilas dengan air sabun di ember yang sama.

Kita hanya bisa melalui ini semua, apabila mau menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Full awareness.

Kadang perubahan itu terasa menyakitkan dan kejam. Ada kelompok masyarakat yang termarjinalisasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bahkan hingga kini kita semua gagap tanggap. Tapi ini bukan kondisi fatalistik. Hanya sekadar disrupsi yang cukup mengagetkan.

Syok ‘terapi’ yang dipaksa oleh situasi. Kebandelan umat manusia yang terpaksa harus sadar diri. Bisa atau tidak, itu soal kemauan untuk berubah.

Pembiasaan pun butuh waktu, yang di sana-sini masih butuh mentoring dan proses pembelajaran yang tak boleh ditinggal. Hingga akhirnya kita masuk pada peradaban baru. Budaya baru.

Dan di situlah kelebihan umat manusia. Sebab jika pandemi ini terjadi pada hewan, mereka cepat atau lambat akan musnah, tepatnya punah – tapi manusia yang mampu berubah akan menuai hikmah.

Baca juga: Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.