Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Face Shield atau Masker, Mana Lebih Efektif Tangkal Covid-19?

Kompas.com - 05/06/2020, 08:37 WIB
Nabilla Tashandra,
Glori K. Wadrianto

Tim Redaksi

Sumber SELF

"Kami tidak punya penelitian yang mengatakan face shield akan memberikan perlindungan bagi orang-orang di sekitar jika kita sakit."

Hal itu dikatakan Ahli Epidemiologi Pencegahan Infeksi di George Mason University, Saskia Popescu, Ph.D.

Namun demikian, sebagian orang berpendapat, berdasarkan pada hukum fisika, face shield kemungkinan juga bisa melindungi orang lain.

Sebab, segala sesuatu yang keluar dari mulut kita akan bergerak maju dan tentunya akan mengenai material plastik yang ada di depan kita.

"Menurut mereka secara fisik tidak bisa dilalui," kata Eli Perencevich, M.D.

Eli Perencevich adalah  Profesor Penyakit Dalam dan Epidemiologi di University of Iowa Carver College of Medicine, yang pada bulan April menerbitkan komentar di JAMA tentang dukungan terhadap face shield.

Perencevich dan rekan-rekannya kini tengah mendesain penelitian untuk menemukan jawaban atas masalah tersebut. Namun kelanjutan penelitian tersebut masih terbentur dana.

Beberapa orang skeptis terhadap face shield karena terbuka pada bagian sisi dan bawah. Meski mungkin sebenarnya celah ini mungkin tidak akan menimbulkan banyak masalah.

Baca juga: Era New Normal Naik Kereta Api: Wajib Pakai Face Shield, Alatnya Disediakan KAI

Penelitian menunjukkan, Covid-19 umumnya menyebar melalui tetesan (droplet) yang keluar dari mulut atau hidung seseorang.

Droplet tersebut ditarik ke bawah oleh gravitasi dalam jarak sekitar dua meter.

Face shield diyakini mampu mencegah tetesan tersebut mengenai wajah seseorang karena terlebih dahulu mengenai material plastik di depan wajah.

Untuk bisa masuk melalui celah face shield, virus perlu berlama-lama di udara dalam partikel yang lebih kecil yang dikenal sebagai aerosol, dan akhirnya berkelok-kelok masuk melalui sisi face shield.

Namun, menurut Ahli Epidemiologi Penyakit Menular dari University of Toronto, David Fisman, M.D., pola penyebaran Covid-19 menunjukkan aerosol adalah hal yang tidak biasa.

Beberapa penelitian menemukan, virus dapat bertahan di udara, tetapi temuan epidemiologis, --seperti data mengejutkan menunjukkan orang sering tidak sakit bahkan ketika anggota keluarganya memiliki Covid-19- menunjukkan transmisi aerosol jarang terjadi.

Baca juga: Presiden Trump dan Masker yang Tak Pernah Dipakainya

Namun, bagi orang yang khawatir tentang potensi penyebaran virus dari udara, bioengineer yang bekerja dengan National Institute for Occupational Safety and Health, William Lindsley, Ph.D. menyarankan menggunakan face shield dan masker di saat yang bersamaan.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com