Kompas.com - 09/06/2020, 07:37 WIB
Menghadapi new normal, sebagian petani di Jawa Barat memanfaarkan teknologi digital untuk memasarkan produknya. Hal ini sebagai salah satu upaya menjaga pasokan pangan. KOMPAS.com/RENI SUSANTIMenghadapi new normal, sebagian petani di Jawa Barat memanfaarkan teknologi digital untuk memasarkan produknya. Hal ini sebagai salah satu upaya menjaga pasokan pangan.

KOMPAS.com – Pandemi virus corona (Covid-19) mengubah perilaku masyarakat menjadi "lebih digital", termasuk saat menghadapi fase new normal.

Salah satu perubahan yang terjadi adalah inovasi dan pemanfaatan teknologi digital pada sektor pertanian.

“(Selama pandemi), stok melimpah, permintaan pun tinggi. Namun namun ada kendala di sisi pemasaran karena masyarakat mengurangi pertemuan.”

Baca juga: Pergizi Pangan Hadirkan Cerita Mami Keren Bahas Gizi dan Kesehatan

Demikian dituturkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Barat, Herawanto saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Itulah mengapa, ada petani yang mengeluhkan produknya tidak terserap pasar selama pandemi Covid-19.

Demi mengatasi persoalan tersebut, BI memperkenalkan pasar baru melalui media online yang diberi nama jualsayuran.com.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Media pemasaran ini digagas oleh kelompok petani muda dengan nama “Agri Muda” yang merupakan bagian dari Gabungan Kelompok Tani Lembang Agri.

Baca juga: Kembali Bekerja saat New Normal, Ini Barang yang Harus Dibawa

“Mereka peraih juara pertama Klaster Championship Bank Indonesia Tahun 2018 dan juara pertama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Terbaik Nasional tahun 2019,” tutur dia.

Selain itu, BI berupaya mempertemukan mitra binaan UMKM dengan aplikasi digital lainnya. Sejalan dengan itu, BI pun meningkatkan kapasitas produsen atau pelaku UMKM binaan.

"Saat ini produk berlimpah, jangan sampai tidak tersalurkan dan mengalami rusak. Sebab ada produk yang mudah rusak seperti sayuran. Kita bantu melalui pasar digital," tegas dia.

Herawanto menjelaskan, hal ini pun dilakukan agar petani tetap bersemangat menanam. Jangan sampai mengalami kerugian saat Covid-19, sehingga enggan bertani.

Sebab, jika itu terjadi akan mengganggu stok pangan. Jadi, pasar digital ini menjadi salah satu cara untuk menjaga pasokan pangan di Jabar.

Baca juga: Menyongsong “New Normal”, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Salah satu petani, Wawan mengaku, saat awal pandemi sempat kebingungan menjual hasil taninya. Akibatnya, sayuran hasil panen pertama ia bagikan daripada membusuk.

Namun, kemudian ia terselamatkan pasar digital. Pesanan dari konsumen masuk ke platform digital itu.

“Sampai sekarang pun kadang masih bingung bagaimana cara jualan via online. Tapi banyak  yang bantu, jadi selama ini alhamdulillah lancar-lancar saja,” cetus dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.