Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/06/2020, 11:40 WIB
Nabilla Tashandra,
Glori K. Wadrianto

Tim Redaksi

Setidaknya, demikianlah hasil pantauan Kompas.com di sejumlah akun penjual Brompton yang ada di media sosial.

Padahal, sebagai catatan, secara fisik dan spesifikasi, perbedaan Brompton yang satu dan yang lain biasanya hanya pada warna dan jumlah percepatan.

Kalaupun ada penggunaan material titanium pada bagian triangle dan fork, harga wajarnya tak terpaut jauh dari seri klasik.

Lalu, ada pilihan terbaru yang menggunakan tenaga listrik, tetapi varian ini masih kurang populer di Tanah Air.

Selebihnya, setiap sepeda Brompton dibuat dengan material dan struktur yang sama. Artinya, tak ada perbedaan signifikan dalam struktur dan material antara yang klasik ataupun versi limited edition.

Baca juga: Kreuz, Sepeda Brompton Made in Bandung yang Laris Manis

Jadi, mungkin kenyataan bahwa harga sepeda bisa sedemikian menggila bisa terasa amat janggal, bahkan gila.

Tetapi di sisi lain, kenyataannya ada, dan bahkan banyak, konsumen yang bersedia membayar harga "tak wajar" tadi, hanya karena perbedaan warna atau iming-iming limited edition dan sebutan rare item.

"Sakit jiwa"?

Psikolog klinis Ratih Ibrahim KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Psikolog klinis Ratih Ibrahim

Psikolog klinis, CEO & Founder Personal Growth, Dra Ratih Ibrahim, MM dimintai pandangannya secara khusus terkait fenomena semacam ini.

"Mau dikaitkan dengan situasi pandemi atau tidak, dorongan untuk latah, ngikut aja, orang ramai-ramai kemudian kita ikut untuk menjadi bagian dari tren, itu sudah something that in us."

"Karena yang kena emosinya," sebut Ratih.

"Kalau dikaitkan dengan pandemi, orang kan bosen banget. Kalau orang Jawa bilangnya 'blenger'," sambung dia.

Tinggal di rumah, terkungkung, meskipun sebetulnya tetap bisa berkeliaran, secara psikologis membuat kesan terkurung. Hal ini yang kadang bisa menimbulkan stres. 

"Ketika stres, orang membutuhkan outlet. Outlet tuh macam-macam. Nah, outlet yang paling tersedia atau reliable adalah social media," kata dia.

Baca juga: Explore Edition, Varian Baru Sepeda Brompton untuk Para Petualang...

Padahal, media sosial tak memiliki batas. Segala hal ada di sana. Ada yang masuk di logika dan ada yang tidak.

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com