Kompas.com - 22/06/2020, 11:40 WIB

Jadi, mungkin kenyataan bahwa harga sepeda bisa sedemikian menggila bisa terasa amat janggal, bahkan gila.

Tetapi di sisi lain, kenyataannya ada, dan bahkan banyak, konsumen yang bersedia membayar harga "tak wajar" tadi, hanya karena perbedaan warna atau iming-iming limited edition dan sebutan rare item.

"Sakit jiwa"?

Psikolog klinis Ratih Ibrahim KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Psikolog klinis Ratih Ibrahim

Psikolog klinis, CEO & Founder Personal Growth, Dra Ratih Ibrahim, MM dimintai pandangannya secara khusus terkait fenomena semacam ini.

"Mau dikaitkan dengan situasi pandemi atau tidak, dorongan untuk latah, ngikut aja, orang ramai-ramai kemudian kita ikut untuk menjadi bagian dari tren, itu sudah something that in us."

"Karena yang kena emosinya," sebut Ratih.

"Kalau dikaitkan dengan pandemi, orang kan bosen banget. Kalau orang Jawa bilangnya 'blenger'," sambung dia.

Tinggal di rumah, terkungkung, meskipun sebetulnya tetap bisa berkeliaran, secara psikologis membuat kesan terkurung. Hal ini yang kadang bisa menimbulkan stres. 

"Ketika stres, orang membutuhkan outlet. Outlet tuh macam-macam. Nah, outlet yang paling tersedia atau reliable adalah social media," kata dia.

Baca juga: Explore Edition, Varian Baru Sepeda Brompton untuk Para Petualang...

Padahal, media sosial tak memiliki batas. Segala hal ada di sana. Ada yang masuk di logika dan ada yang tidak.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X