Kompas.com - 22/06/2020, 21:20 WIB
/Ilustrasi Shutterstock/Ilustrasi

KOMPAS.com - Beberapa tahun lalu, Anda mungkin khawatir si kecil tidak cukup banyak bicara. Hari ini, Anda mungkin khawatir dia justru terlalu banyak bicara.

Sekarang, perbendaharaan katanya sangat baik, dia menggunakan banyak kata yang berbeda, berbicara dalam kalimat yang panjang dan tampaknya tak pernah lelah bicara.

Tentu sangat menyenangkan mengetahui bahwa keterampilan bahasa anak berkembang dengan baik.

Baca juga: Mengapa Anak Terus Menempel dan Bersikap Manja Selama Masa Karantina?

Namun, komunikasi lebih dari sekadar berbicara. Diperlukan etiket dalam setiap percakapan. Anak tak bisa tiba-tiba menyela pembicaraan orang lain dan menuntut perhatian berpusat padanya.

Berikut adalah tiga etika penting percakapan yang bisa orangtua ajarkan pada anak:

Cara mendengarkan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jelaskan bahwa percakapan adalah proses dua arah, yang harus bergiliran. Sama seperti dia ingin orang lain mendengarkannya ketika dia berbicara, orang lain mengharapkan hal yang sama darinya.

Latih ini dengan anak di rumah. Ketika dia berbicara, tunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan melakukan kontak mata ketika dia berbicara, dengan menganggukkan kepala di saat yang tepat, dan dengan mencocokkan ekspresi wajah dengan suasana hatinya.

Kemudian dorong dia untuk melakukan hal yang sama ketika Anda berbicara.

Mengapa menyela itu tidak sopan?

Anak mengharapkan Anda untuk membiarkannya berbicara tanpa gangguan, dan dia bahkan akan mencoba meredam suara Anda dengan berbicara lebih keras dari biasanya, jika dia berpikir Anda ingin berbicara sebelum dia siap untuk berhenti.

Dia sangat senang mendengar suaranya sendiri. Namun, dia tidak begitu pandai membiarkan Anda berbicara tanpa menyela.

Kemungkinannya adalah, Anda hampir tidak memiliki kesempatan untuk membuka mulut untuk berbicara tentang sesuatu, sebelum dia membuat keputusan sendiri.

Jadi, lain kali dia mengganggu Anda, angkat tangan untuk menunjukkan bahwa ia harus berhenti bicara dan mendengarkan, kemudian lanjutkan bicara sampai Anda selesai.

Dia akan segera memahami aturan ini. Ada waktu dan tempat untuk sebagian besar percakapan, dan ada waktu ketika dia harus tetap diam.

Misalnya, ketika dia berada di bioskop dengan Anda, ketika Anda mengobrol dengan teman yang Anda temui saat berbelanja, dan ketika dia ikut bersama Anda saat Anda harus mengurus sesuatu di bank.

Ingatlah bahwa apa yang jelas bagi Anda, mungkin tidak demikian bagi anak kecil. Sabar dan beri dia waktu untuk belajar.

Setiap kali Anda mengantisipasi akan memasuki suatu konteks, di mana keheningan lebih sesuai daripada percakapan, berikan peringatan sebelumnya, bahwa ia tidak boleh berbicara dengan keras.

Baca juga: Bukan Hanya dengan Ibu, Ikatan Ayah dan Anak Sama Pentingnya

Halaman:


Sumber asiaone
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.