Kompas.com - 23/06/2020, 23:48 WIB
Ilustrasi otot dan protein shutterstockIlustrasi otot dan protein

Untuk penelitian tersebut, tim menggunakan model tikus yang terinfeksi virus yang disebut virus limfositik koriomeningitis (LCMV).

Infeksi kemudian menyebabkan otot memproduksi lebih banyak protein pensinyalan yang disebut interleukin-15 (IL-15).

Kehadiran peningkatan protein kemudian menyebabkan pelepasan limfosit otot-infiltrasi (MIL), yang mengandung tingkat tinggi sel-T faktor 1 (Tcf1).

Para peneliti mengatakan, perubahan ini dapat memberi tubuh kemampuan untuk mempertahankan lebih banyak sel-T untuk melawan atau mencegah infeksi.

“Jika sel-T, yang secara aktif memerangi infeksi, kehilangan fungsionalitas penuhnya melalui stimulasi berkelanjutan, sel-sel prekursor dapat bermigrasi dari otot dan berkembang menjadi sel-T yang fungsional,” Jingxia Wu, penulis studi, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Ini memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus terus-menerus dalam jangka waktu yang lama."

Baca juga: Latih Kekuatan Otot Selama #DiRumahAja dengan 5 Gerakan Ini

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X