Kompas.com - 23/06/2020, 23:48 WIB
Ilustrasi otot dan protein shutterstockIlustrasi otot dan protein

KOMPAS.com - Memiliki lebih banyak massa otot rupanya dapat membantu melindungi tubuh dari infeksi.

Demikian menurut sebuah penelitian baru, yang menemukan massa otot membantu menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh saat melawan virus atau bakteri yang bisa menyebabkan penyakit.

Temuan ini datang di tengah pandemi Covid-19 yang diketahui sangat mempengaruhi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah.

Karena itulah, para ahli kesehatan mempromosikan pentingnya pola makan sehat dan aktivitas fisik untuk meningkatkan kemampuan tubuh memblokir penyakit atau mencegah komplikasi serius.

Baca juga: Kalistenik, Olahraga Praktis Pembentuk Otot Menggunakan Berat Tubuh

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini, menemukan bahwa jaringan otot memberi perlindungan sel-sel kekebalan ketika melawan infeksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berlindung di balik otot, memberi sel kesempatan untuk menghindari terbakar oleh pertempuran konstan melawan virus dan patogen lainnya.

Selama infeksi, tubuh bergantung pada sel-T untuk mengidentifikasi dan membunuh ‘penyerang asing’.

Namun, sel-sel ini juga berisiko kelelahan, yang mengurangi fungsi mereka dan mengarah pada respons imun yang melemah.

Berkurangnya fungsi sel-T juga menyebabkan cachexia, suatu kondisi yang melibatkan penurunan berat badan dan berkurangnya massa otot.

Itu mengarahkan para peneliti untuk menyelidiki hubungan antara respons imun dan keberadaan otot rangka.

Baca juga: Ingin Punya Six Pack? Ini 8 Cara Membentuk Otot Perut1

Untuk penelitian tersebut, tim menggunakan model tikus yang terinfeksi virus yang disebut virus limfositik koriomeningitis (LCMV).

Infeksi kemudian menyebabkan otot memproduksi lebih banyak protein pensinyalan yang disebut interleukin-15 (IL-15).

Kehadiran peningkatan protein kemudian menyebabkan pelepasan limfosit otot-infiltrasi (MIL), yang mengandung tingkat tinggi sel-T faktor 1 (Tcf1).

Para peneliti mengatakan, perubahan ini dapat memberi tubuh kemampuan untuk mempertahankan lebih banyak sel-T untuk melawan atau mencegah infeksi.

“Jika sel-T, yang secara aktif memerangi infeksi, kehilangan fungsionalitas penuhnya melalui stimulasi berkelanjutan, sel-sel prekursor dapat bermigrasi dari otot dan berkembang menjadi sel-T yang fungsional,” Jingxia Wu, penulis studi, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"Ini memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus terus-menerus dalam jangka waktu yang lama."

Baca juga: Latih Kekuatan Otot Selama #DiRumahAja dengan 5 Gerakan Ini

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X