Amankah Bersepeda Secara Berkelompok? Ini Kata Ahli

Kompas.com - 24/06/2020, 07:54 WIB
Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau car free day (CFD) di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAWarga berolahraga saat hari bebas berkendara atau car free day (CFD) di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

KOMPAS.com - Tren bersepeda ditemui di mana-mana. Di akhir pekan biasanya para pesepeda akan melakukan kegiatan ini bersama-sama dengan teman satu komunitas. Walau demikian, kewaspadaan akan infeksi Covid-19 sebaiknya tetap dimiliki karena pandemi belum berlalu.

Para ahli menyebut, di masa pandemi ini yang paling aman adalah bersepeda sendirian atau bersama anggota keluarga serumah.

Namun, tak dipungkiri bahwa kegiatan gowes bersama teman atau rombongan komunitas merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk melepas penat selama karantina.

Menurut Kimberly Powers, Ph.D, ahli kesehatan masyarakat, sebenarnya kita bisa bersepeda dengan teman yang kita percaya dalam kondisi sehat dan tetap menghindari kontak fisik.

"Secara teori, itu seharusnya baik-baik saja selama kita tahu dengan siapa kita bersepeda dan apa yang telah mereka lakukan untuk menjaga diri mereka aman," katanya seperti dikutp dari Bicycling.

Kendati masih ada risiko terpapar atau menyebarkan Covid-19 tanpa gejala, membangun kepercayaan dengan teman dapat meminimalkan risiko kita.

Baca juga: Tips Bersepeda Aman di Masa Pandemi Covid-19

Meski penyebaran virus corona rentan saat kita berada dalam jarak dekat dengan orang lain, virus lebih mudah ditularkan saat orang berdekatan dalam ruang terbatas, kata David Nieman, profesor kesehatan di Appalachian State University.

Jika kita berada di luar dengan beberapa orang di zona dengan jumlah kasus rendah dan mengikuti panduan jarak sosial, risiko penyebaran juga lebih rendah.

Tetap menjaga jarak dan bersepeda dengan mengenakan masker. Berada di luar ruang dapat mengurangi risiko penyebaran virus, dan setidaknya jaga jarak sekitar 1,5 meter antara satu sama lain.

Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau car free day (CFD) di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA Warga berolahraga saat hari bebas berkendara atau car free day (CFD) di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi.

Pertimbangkan kondisi 

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan olahraga, kenali kondisi tubuh kita, apakah merasa sehat atau tidak, kata Patrick Green, MD, general cardiologist di UC Health.

"Jika seseorang memiliki gejala sugestif terhadap Covid-19, mereka tidak boleh berolahraga karena dua alasan," kata Green.

"Pertama, agar tidak menyebarkan virus, namun juga menghindari miokarditis (radang jantung). Penyakit virus dapat menyebabkan peradangan miokard dan merusak otot jantung. Ini diperburuk dengan olahraga."

Namun, jika kita merasa baik-baik saja, olahraga ringan dapat bermanfaat bagi sistem kekebalan tubuh, selama melakukannya dengan aman, kata Nieman.

Pertimbangan sebelum bertemu kelompok

Semakin banyak orang di sekitar kita, semakin besar risiko terpapar atau menularkan virus tanpa gejala.

Karena itu, beberapa panduan wajib ditaati, seperti tidak bersalaman, jangan berbagi botol air, mengendarai mobil terpisah ke lokasi pertemuan, dan tidak berkomunikasi dalam jarak dekat di satu tempat.

Pertimbangkan juga kegiatan bersepeda dalam rombongan jika kita tinggal satu rumah dengan orang yang kekebalan tubuhnya rendah, seperti lansia, bayi dan balita, serta orang dengan penyakit autoimun.

"Setiap kali kita pergi ke tempat umum, kita tidak hanya menempatkan diri dalam risiko, tetapi membawa risiko itu pulang kepada orang yang tinggal bersama kita," kata Labus.

Baca tentang


Sumber Bicyling
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X