Pembiaran Norma Anyar yang Makin Ambyar

Kompas.com - 26/06/2020, 20:33 WIB
Ilustrasi era norma baru SHUTTERSTOCKIlustrasi era norma baru

 

Apa hubungannya dengan usaha kecil di masa pandemi? Sangat berhubungan. Siapa yang tahu, wiraswasta kecil-kecilan bikin kue atau lauk akhirnya menjadi budaya baru: awalnya beli ‘dagangan teman’, ujung-ujungnya jadi bisnis berkelanjutan.

Kelihatannya ekonomi merayap naik, serapan bahan baku pangan naik. Tapi nanti dulu,bahan baku yang mana? Gula, terigu, garam, minyak? Lima tahun ke depan ini semua menjadi kontributor rapor merah riset kesehatan dasar.

Bisnis yang sudah menggelinding sulit untuk dituding sebagai biang kerok apalagi dikenai aturan: wajib bikin surat izin usaha, perlu terdaftar di BPOM, semua dianggap penyulit orang yang sedang dalam kondisi ‘survival’. Ibarat banjir bandang terjadi dan penggusuran dianggap penzaliman.

Dalam salah satu webinar yang diselenggarakan sebuah lembaga non pemerintah, para pakar sebagai nara sumber independen setuju, bahwa arah penanggulangan pandemi kita lebih membela ekonomi, protokol kesehatan hanya sekadar pemanis.

Yang apabila dijalankan tentunya jadi baik, dan jika tak dijalankan ya tanggung saja sendiri akibatnya.

Baca juga: Wabah Virus Corona yang Mengubah Marwah Manusia

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sayangnya, tidak banyak yang bisa memprediksi jauh ke depan: korban bukan saja anak-anak yang meninggal sebagai akibat langsung terkena infeksi virusnya, tapi juga anak-anak yang tumbuh kembang dalam suasana tidak kondusif, yang lingkaran norma ‘anyarnya’ amburadul.

Dunia bisnis dan teknik-teknik pemasaran melesat lebih canggih ketimbang teknik mengkomunikasikan literasi kesehatan.

Istilah ‘rakyat kecil’ pun barangkali cuma ada di Indonesia. Suatu ungkapan eksplisit yang di baliknya penuh rasa kurang, ketidakadilan, kekecewaan, kekhawatiran, dan kemarahan yang setiap saat bisa meledak.

Dijadikan excuse, alasan – untuk semua ketidakberdayaan. Yang semestinya, setelah 75 tahun kita merdeka, tidak boleh lagi ada.

Sekarang momentumnya. Yang awalnya diberi ikan untuk makan, maka suatu hari dia harus cukup kuat untuk diberi kail dan mencari ikan sendiri. Bukan terus menadahkan tangan.

Saat orang mengambil jarak satu sama lain, saat setiap individu bermasker mencegah penularan terhadap individu lain, adalah momen tepat untuk mengajarkan bahwa setiap tindakan perorangan itu bermakna. Termasuk setiap catatan kecerobohan, tentu saja.

Di masa pandemi ini, jika dukungan pemerintah dan semua kelompok filantrofis elite salah kaprah, maka jurang akan semakin lebar dan norma anyar membuat kondisi kian ambyar.

Baca juga: Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X