Kompas.com - 30/06/2020, 21:19 WIB
Ilustrasi nyeri dada Ilustrasi nyeri dada

KOMPAS.com - Tidak semua nyeri dada sama, tetapi semua nyeri dada tidak boleh diabaikan - terutama jika itu persisten, berulang atau bahkan parah.

Nyeri dada yang tiba-tiba muncul membutuhkan evaluasi oleh dokter. Jika rasa sakitnya parah, itu berarti kamu harus segera mencari perawatan medis.

Begitupun jika nyeri dada tidak parah, perawatan darurat diperlukan jika rasa sakit terus-menerus atau dada terasa nyeri seperti diremas.

Bahkan, menurut Harvard Medical School, rasa sakit terus-menerus atau tekanan di dada bisa menjadi gejala darurat Covid-19.

Baca juga: Kenali 7 Penyebab Nyeri Dada yang Bukan Serangan Jantung

Sehingga, penting untuk mencari bantuan medis segera jika kamu mengalami ketidaknyamanan di bagian dada selama pandemi ini. Lebih baik mengetahui penyebabnya, daripada tetap dalam kegelapan.

"Infeksi Covid-19 atau infeksi dada lainnya, seperti radang paru-paru, kadang-kadang dapat meniru serangan jantung dalam hal nyeri dada dan masalah pernapasan," kata ahli jantung di Singapura, Dr. Peter Ting.

"Secara statistik, orang muda lebih rendah kemungkinannya mengembangkan penyakit jantung koroner dibandingkan dengan orang yang berusia lebih tua, karena itu adalah penyakit degeneratif."

"Namun, kita melihat lebih banyak usia 20-an sampai 30-an mengalami serangan jantung karena peningkatan faktor risiko seperti merokok, stres, tidak cukup tidur, dan olahraga terlalu berlebihan," imbuhnya.

Penyakit lain yang kurang mengancam jiwa tetapi sama-sama mengkhawatirkan, dapat termasuk radang kerongkongan, tulang rusuk, kantung empedu, dan epigastrium (perut bagian atas).

Baca juga: Tak Cuma Nyeri Dada, Ini Ciri-ciri Lain Tanda Jantung Bermasalah

 

Nyeri dada sering disalahartikan

Menurut Dr Ting, yang juga Direktur Medis di StarMed Specialist Center, Singapura, masalah yang berhubungan dengan jantung sering tumpang tindih dengan masalah refluks gastroesofagus atau GERD.

Penyataan senada juga disampaikan oleh Dr Shanker Pasupathy, spesialis gastrointestinal. Menurutnya, nyeri dada hanya merupakan lokasi rasa sakit. Gejala sakit ini sering disalahartikan karena posisi organ yang berdekatan.

“Saya telah melihat orang-orang yang mengalami nyeri di daerah dada menganggapnya sebagai masalah perut, tapi ternyata itu adalah gejala dari masalah jantung,” katanya.

“Sebaliknya, orang yang telah melakukan semua jenis tes jantung ternyata semua hasilnya negatif, dan ketika kami melakukan endoskopi, kami menemukan bahwa itu adalah masalah yang berhubungan dengan gastro," lanjutnya.

Karena gejala yang sama dan posisi organ berdekatan – rasa sakit biasanya muncul di daerah dada tengah atau epigastrium (daerah sedikit di bawah dada), inilah yang terkadang membuat cukup sulit untuk membedakan antara masalah kardio dan gastro.

Apalagi, nyeri dada seringkali tidak spesifik dan memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari tahu penyebab yang mendasarinya. Karena itu, ketika kamu merasakan nyeri dada ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter untuk menemukan penyebabnya.

Baca juga: Serangan Jantung Makin Banyak Menyerang Pria di Bawah Usia 40, Kenapa?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber asiaone
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.