Kompas.com - 02/07/2020, 16:14 WIB

"Lebih ke arah sana pattern-nya untuk orang-orang yang mau membeli," sebut Ghianina.

"Contohnya sepeda yang bukan Brompton, mirip tapi lebih murah. Kalau dalam consumer behaviour, masuknya ke dalam complex high invesment decision making," sebut dia.

Ghianina menilai, Brompton adalah barang mahal yang juga bisa dihitung sebagai investasi.

"Jadi sebagai konsumen kita terlibat banget dalam pemikiran (sebelum) membeli barang ini," kata dia lagi

"Kita cari tahu, riset, cari perbandingannya, misal Brompton apa sih bedanya sama yang lain, kita benar-benar terlibat dalam proses pembeliannya."

Rangkaian pertimbangan itu -selain daya beli, ketersediaan barang, dan pertimbangan lain, menjadi bagian sebelum seseorang memutuskan untuk membeli yang mana.

Uniknya, pola pembelian antara perempuan dan laki-laki yang sesungguhnya berbeda, tak berlaku dalam urusan Brompton.

"Perempuan (biasanya) lebih ada kayak pride-nya dalam membeli sesuatu. Apalagi mereka membeli dengan harga yang sangat bagus, diskon, itu lebih ke perempuan."

"Dan, perempuan kalau belanja kan untuk ada simbolnya, untuk show off, ada perfection. walaupun enggak semua perempuan seperti itu," kata dia.

Sementara laki-laki, tendensinya membeli sesuai kebutuhan. "Bukan karena harga yang oke banget."

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.