Ilmuwan Sebut Covid-19 Menular Lewat Udara, Apa Maksudnya?

Kompas.com - 07/07/2020, 19:08 WIB
Tim medis Puskesmas Kecamatan Tanah Abang mengambil sampel lendir warga saat tes usap di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (16/6/2020). Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui Kecamatan Tanah Abang melakukan rapid dan swab test COVID-19 yang diperuntukkan bagi para pedagang dan warga di sekitar pasar tersebut. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGTim medis Puskesmas Kecamatan Tanah Abang mengambil sampel lendir warga saat tes usap di Pasar Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (16/6/2020). Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui Kecamatan Tanah Abang melakukan rapid dan swab test COVID-19 yang diperuntukkan bagi para pedagang dan warga di sekitar pasar tersebut.

KOMPAS.com - Ketika Covid-19 mulai menyebar ke seluruh dunia pada awal tahun ini, organisasi kesehatan utama, termasuk WHO dan CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS) sepakat menyebut virus ini menular lewat droplet atau tetesan air yang keluar saat seseorang bicara, bersin, atau batuk.

Namun, kini sekelompok ilmuwan dari 32 negara berbeda meminta WHO untuk mengubah pendapat tersebut.

Sebanyak 239 ilmuwan itu mengirim surat terbuka pada WHO lewat harian New York Times dan menyatakan bahwa virus korona baru (Covid-19) dapat menular melalui udara ( airborne).

Partikel kecil di udara yang mengandung Covid-19 dapat menginfeksi orang. Demikian pendapat para ilmuwan itu dan meminta WHO merevisi rekomendasinya.

Apa yang dimaksud menular lewat udara?

Menurut panduan WHO yang terbit pada 29 Juni 2020, ada kemungkinan Covid-19 menyebar lewat aerosol, yakni partikel halus zat padat atau cair dalam gas atau udara.

Namun, kemungkinan ini hanya terjadi jika ada prosedur medis khusus yang menghasilkan aerosol seperti intubasi.

Baca juga: Gugus Tugas: Pakai Masker dengan Benar, Tekan Penularan Covid-19 hingga 50 Persen

Para ilmuwan menyebut menemukan sejumlah bukti virus ini bisa menular lewat udara.

Jika transmisi udara terbukti, kemungkinan besar orang-orang harus tetap mengenakan masker di dalam ruangan.

"Ketika sesuatu menular lewat udara, itu berarti bisa tetap berada di udara selama beberapa waktu, dalam hitungan jam, dan bersifat infeksius," kata ahli penyakit menular dari Johns Hopkins Center for Health Security, dokter Amesh A.Adalja.

Ia mencontohkan penyakit cacar dan tuberkulosis sebagai penyakit yang menular lewat udara.

"Jika seseorang yang sakit cacar dan naik lift, lalu setengah jam kemudian kamu masuk ke lift itu setelah dia keluar, maka udara di dalamnya masih bisa menularkan penyakit," paparnya.

 

Penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Bogor, Jumat (26/6/2020). Tim gugus tugas penanganan Covid-19 Jawa Barat melakukan rapid test dan tes usap pada penumpang KRL Commuter Line yang tiba di Stasiun Bogor untuk memetakan sebaran Covid-19.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Penumpang KRL Commuter Line tiba di Stasiun Bogor, Jumat (26/6/2020). Tim gugus tugas penanganan Covid-19 Jawa Barat melakukan rapid test dan tes usap pada penumpang KRL Commuter Line yang tiba di Stasiun Bogor untuk memetakan sebaran Covid-19.

Ketika pasien yang terinfeksi virus atau penyakit yang bersifat airborne, maka hal itu akan mengubah tata laksana perawatan di rumah sakit.

"Pasien akan dirawat di ruangan bertekanan negatif dan staf medis harus memakai masker N-95 yang mampu menyaring mayoritas partikel udara," katanya.

Beda airborne dengan transmisi droplet

Menurut Adalja, droplet pernapasan berbeda dengan aerosol.

Droplet relatif lebih berat dan dengan cepat turun ke permukaan setelah diproduksi. Kekhawatiran utama dari droplet pernapasan orang yang terinfeksi Covid-19 adalah menempel di mulut atau hidung orang yang berada di dekatnya dan kemungkinan terhirup ke paru-paru.

Dalam kasus Covid-19, orang cenderung tertular oleh droplet pernapasan dari seseorang yang positif Covid-19 saat berada dalam kontak dekat, atau berjarak kurang dari dua meter.

Baca juga: WHO Masih Menyatakan Covid-19 Menular Lewat Droplet, Bukan Udara

Di lain pihak, para ilmuwan menyarankan kita perlu melihat arti "airborne" sedikit berbeda dan bahwa WHO mengandalkan defisini dari penularan udara, sebagai patogen yang menyebar lewat udara, seperti virus cacar, yang sangat menular dan bisa melayang jauh.

Selama ini diketahui bahwa virus corona sangat menular ketika seseorang melakukan kontak erat dalam ruangan selama beberapa waktu, yang menurut beberapa ilmuwan sejalan dengan definisi penularan lewat aerosol.

Sampai saat ini WHO belum memberi jawaban apakah akan mengubah definisi penularan Covid-19 karena belum ada bukti kuat dan jelas.

Soumya Swaminathan, Koordinator Ilmuwan WHO, mengatakan, pihaknya kini berusaha mengevaluasi bukti ilmiah yang disodorkan ratusan ilmuwan tadi secepat mungkin. Ia memastikan untuk mendengarkan semua masukan.

Sejumlah ahli lagi menyarankan semua orang melakukan pencegahan lebih awal dengan selalu mengenakan masker. Masker kain terbukti dapat menurunkan risiko terpapar Covid-19.

Baca juga: Masih Enggan Pakai Masker? Lihat Percobaan Ini!



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X