6 Mitos Keliru soal Pandemi Covid-19 yang Penting Diketahui

Kompas.com - 08/07/2020, 21:20 WIB
Ilustrasi virus corona, Covid-19 ShutterstockIlustrasi virus corona, Covid-19

KOMPAS.com - Hampir semua wilayah Negara mulai membuka lockdown, termasuk Indonesia yang mulaijuga telah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar.

Sayangnya, ini memberikan orang-orang persepsi yang salah tentang rasa aman, mereka merasa bahwa Negara atau wilayah tempat mereka tinggal telah memenangkan pertarungan melawan Covid-19.

Ketika negara perlahan-lahan dibuka kembali, kemudian memungkinkan bisnis melanjutkan operasi, dan beberapa aktivitas luar ruangan telah diizinkan, banyak orang terlihat mulai mengabaikan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker wajah dan menjaga jarak sosial. Hal ini tentu bisa menyebabkan lonjakan mendadak pada kasus baru Covid-19.

Baca juga: Ilmuwan Sebut Covid-19 Menular Lewat Udara, Apa Maksudnya?

Pelonggaran karantina menciptakan kesalahpahaman yang mendorong orang untuk lengah. Para ahli mengatakan, hal itu memengaruhi tindakan orang-orang dan mungkin memberi virus corona peluang untuk menulari lebih banyak orang.

Berikut enam mitos salah terkait pandemi Covid-19:

1. Perekonomian mulai aktif bukan berarti kondis pandemi Covid-19 membaik

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, bahwa meskipun banyak negara membuat kemajuan dalam mengelola Covid-19, dunia masih jauh dari akhir pandemi.

Para ahli kesehatan juga percaya, bahwa kita belum mencapai kondisi terburuk dari pandemi Covid-19.

Di Amerika misalnya, banyak orang beranggapan bahwa AS telah mencapai herd immunity. Faktanya, yang terinfeksi hanya 5 hingga 8 persen dari populasi. Sedangkan, dibutuhkan 70 hingga 90 persen orang untuk mendapatkan herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap Covid-19.

2. Herd Immunity akan menyelamatkan semua orang

Beberapa orang percaya bahwa herd immunity adalah kunci untuk mengakhiri perang melawan virus corona.

Tapi, jalan menuju ke sana sangat berbahaya dan bisa mengorbankan banyak nyawa.

Sejak awal pandemi, rumah sakit sudah menghadapi tantangan dalam mengakomodasi semua pasien dengan Covid-19.

Bayangkan, jika sebagian besar populasi dirawat di rumah sakit bersamaan dengan penyakit atau kondisi lain yang juga membutuhkan perawatan intensif.

Baca juga: CDC Menambahkan 3 Gejala Baru Covid-19 yang Harus Diwaspadai

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X