Kompas.com - 08/07/2020, 23:10 WIB
Ilustrasi makanan manis PressmasterIlustrasi makanan manis

 

2. Lemak Trans

Melalui proses yang disebut hidrogenasi, produsen makanan berhasil membuat lemak trans.

"Menambahkan hidrogen ke dalam lemak mengubah tekstur, konsistensi, dan umur simpannya," kata Coates.

"Tetapi para peneliti telah menemukan, bahwa tidak ada tingkat lemak trans yang aman untuk dikonsumsi. Jadi usahakan untuk mengonsumsi kurang dari satu gram lemak trans setiap hari."

Coates mengatakan, lemak trans ada dalam makanan restoran cepat saji dan makanan yang dipanggang seperti kue dan kerupuk.

Mengapa harus menghindarinya: Coates menjelaskan, lemak trans meningkatkan kolesterol LDL "buruk" dan menurunkan kolesterol HDL "baik", keduanya merupakan tindakan yang dapat meningkatkan risiko pengembangan penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

3. Daging Merah dan Daging Olahan

Untuk mempertahankan rasa, daging olahan telah diasinkan, difermentasi atau diasapi. Daging olahan dan daging merah mengandung banyak lemak yang menyebabkan peradangan.

Daging merah gtermasuk daging sapi, babi, dan kambing, sedangkan hot dog, sosis, dan bakso adalah contoh daging olahan.

Mengapa harus menghindarinya: "Penelitian telah menunjukkan, asupan daging merah dan daging olahan dalam jumlah tinggi berisiko menyebabkan kanker, penyakit jantung, dan stroke, yang semuanya berjalan seiring dengan peradangan," lapor Coates.

Baca juga: Diet Anti-Inflamasi Diklaim Mampu Perpanjang Usia

4. Omega-6

Digunakan sebagai energi, omega-6 memang tidak diproduksi oleh tubuh, sehingga dapat diperoleh melalui makanan.

Asam lemak ini ditemukan dalam minyak seperti minyak canola, minyak jagung, dan minyak bunga matahari, serta dalam mayones.

Mengapa harus menghindarinya: Menurut Coates, asam lemak omega-6 diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan, serta bahwa mereka juga berkontribusi pada jenis peradangan yang baik dalam tubuh yang membantu penyembuhan.

Namun, kamu membutuhkan keseimbangan omega-6 yang sehat dalam tubuh. Mengonsumsi omega-3 antara lain dalam salmon, kenari, dan biji rami membantu mencapai keseimbangan itu.

“Jika di dalam tubuh tidak memiliki cukup omega-3 tapi banyak omega-6, tubuh akan membuat respons pro inflamasi dan inflamasi yang konsisten," tambahnya.

5. Karbohidrat Olahan

Coates mengatakan, karbohidrat olahan seperti kentang goreng, nasi putih, dan produk tepung putih lainnya tidak diberi nutrisi, minim serat, dan menjadi "andalan" dalam pola makan banyak orang.

Mengapa harus menghindarinya: Karbohidrat olahan mirip dengan gula yang ditambahkan, karena tidak ada yang memperlambat penguraiannya.

Mereka menghantam aliran darah dengan cepat dan meningkatkan gula darah. Kemudian peningkatan gula darah menciptakan respons peradangan.

"Tubuhmu sedang mencoba mengeluarkan gula dari darahmu, sehingga merangsang peradangan itu," jelas Coates.

Baca juga: Mengganti Karbohidrat Sederhana, Kunci Wanita Ini Turun 27 kg

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.