Kompas.com - 10/07/2020, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Patah hati tentu merupakan pengalaman yang pahit. Namun, kondisi ini tidak selalu dikaitkan dengan hubungan asmara yang kandas. Sebuah kondisi medis lemahnya otot jantung juga disebut sebagai "sindrom patah hati".

Temuan terbaru menyebut, terdapat peningkatan signifikan dalam "sindrom patah hati" di dua rumah sakit di Ohio, Amerika Serikat, pada beberapa pasien yang tidak terinfeksi virus corona.

Fenomena itu menunjukkan, stres secara fisik, sosial dan ekonomi akibat pandemi berdampak pada kesehatan tubuh.

Sindrom Takotsubo, atau sering disebut sindrom patah hati terjadi ketika otot jantung melemah, menyebabkan nyeri dada dan sesak napas.

Gejala yang muncul seperti serangan jantung, namun dipicu oleh peristiwa stres, bukan penyumbatan dalam aliran darah.

Baca juga: Jangan Sering Sedih! Sindrom Patah Hati Bisa Membunuh

Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, sindrom patah hati bisa mematikan, tetapi pasien biasanya pulih dalam beberapa hari atau beberapa minggu.

Para peneliti di Cleveland Clinic mempelajari pasien di dua rumah sakit yang menderita gangguan jantung, lalu membandingkannya dengan pasien yang memiliki masalah serupa selama dua tahun terakhir.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Network Open tersebut, pasien dengan gangguan jantung selama pandemi memiliki kemungkinan dua kali lipat mengalami sindrom patah hati.

Studi ini mengamati 1.914 pasien dari lima periode dua bulan yang berbeda, termasuk sampel lebih dari 250 pasien yang dirawat di rumah sakit pada bulan Maret dan April, selama puncak awal pandemi.

Studi menemukan, peningkatan sindrom patah hati kemungkinan terkait tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang dipicu pandemi.

Tekanan itu mencakup karantina yang dipaksakan, kurangnya interaksi sosial, aturan ketat terkait jarak fisik, dan konsekuensi ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Pedagang di Pasar Kumbasari, Denpasar menjalani tes swab, Jumat (12/6/2020).Istimewa Pedagang di Pasar Kumbasari, Denpasar menjalani tes swab, Jumat (12/6/2020).

"Pandemi telah menciptakan lingkungan paralel yang tidak sehat," kata Dr. Ankur Kalra, ahli jantung yang memimpin penelitian.

"Jarak emosional tidak menyehatkan. Dampak ekonomi tidak menyehatkan. Kami melihat sebagai peningkatan kematian non virus corona, dan penelitian kami mengatakan stres kardiomiopati meningkat karena stres akibat pandemi."

Studi ini tidak memeriksa apakah ada hubungan antara sindrom patah hati dan stres karena terinfeksi virus corona, atau melihat anggota keluarga yang menderita penyakit tersebut.

Para pasien dalam penelitian ini diuji untuk Covid-19 dan tidak seorang pun dari tes mereka yang positif.

Baca juga: Bagaimana Keluar dari Kecemasan dan Rasa Takut di Masa Pandemi?


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.