Wanita Ini Sukses Kendalikan Diabetes dengan Diet Keto dan Intermiten

Kompas.com - 17/07/2020, 22:28 WIB
Ilustrasi tes darah, diabetes Shutterstock/Proxima StudioIlustrasi tes darah, diabetes

KOMPAS.com - Para penggemar diet keto telah lama mengklaim pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak menawarkan banyak manfaat bagi kesehatan.

Selain itu, diet keto dianggap bisa membantu orang untuk menurunkan berat badan, mendapatkan lebih banyak energi, serta mengurangi risiko sejumlah penyakit.

Sedangkan diet intermiten atau pola membatasi asupan makanan untuk periode waktu tertentu juga kerap disebut dapat menurunkan berat badan serta berpotensi memperpanjang usia.

Baca juga: Turun Berat Badan hingga 20 Kg, Pria Ini Berbagi Tips Jalani Diet Keto

Teori-teori itu mendapatkan validitas dari sebuah studi kasus yang menemukan di mana seorang wanita berusia 57 tahun mampu mengendalikan diabetes tipe 2 tanpa obat, dengan beralih ke diet keto- intermiten.

Ditambah lagi, wanita tersebut mengendalikan diabetes dengan diet tanpa menurunkan berat badan, menurut penelitian yang diterbitkan 7 Juli dalam BMJ Case Reports.

Penelitian sebelumnya telah menemukan, diet keto mengobati diabetes dengan mencegah gula darah naik, karena penderita diabetes tidak menghasilkan insulin dalam jumlah memadai untuk mengatur kadar glukosa mereka.

"Hal yang paling berdampak pada glukosa darah kita adalah jumlah karbohidrat dalam diet. Diet rendah karbohidrat efektif karena menurunkan jumlah insulin," kata Dr. Mark Cucuzzella kepada Insider dalam sebuah wawancara.

"Insulin adalah pemicu utama," tambah dia.

Baca juga: Cegah Diabetes, Pahami Kiat Kurangi Kebiasaan Konsumsi Makanan Manis

Bagaimana dokter merancang diet sang pasien

Pasien wanita itu mengonsumsi 80 persen kalori hariannya dari lemak, dan 5 persen karbohidrat, dengan total 1.500 kalori per hari.

Ia berpuasa pada hari Senin, Rabu, dan Jumat selama dua minggu pertama diet, kemudian menyesuaikan diri dengan puasa 42 jam pada hari Senin dan Rabu, serta 16 jam pada hari Jumat.

Setelah gula darah terkendali, ia mengurangi puasa menjadi 16 jam sehari, dengan 3 periode puasa 24 jam per bulan.

Selama masa puasa, pasien wanita tersebut hanya minum air, kopi, dan kaldu tulang. Jika tidak puasa, dia makan dua kali sehari tanpa mengonsumsi makanan ringan.

Baca juga: Mengenal Puasa Intermiten dan Manfaatnya untuk Kesehatan

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X