Kompas.com - 21/07/2020, 15:52 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.comOrangtua mungkin sering menghadapi kejadian di mana anak mereka yang masih balita suka berteriak tanpa alasan.

Ini mungkin terasa agak mengganggu, apalagi jika terus berulang.

Namun, tahukah bahwa ternyata menjerit adalah cara yang digunakan oleh balita untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Dia mungkin berteriak ketika melihat hewan peliharaan atau mainan favoritnya.

Dia juga bisa berteriak saat mendengar suara tawa ibu atau ayah, atau sedang sibuk menikmati suara jeritannya sendiri.

Baca juga: Balita Kylie Jenner Tenteng Tas LV Seharga Rp 17 Juta

Si kecil mungkin tidak hanya berteriak ketika bersemangat; jeritan bisa datang ketika dia marah atau mungkin pula kesakitan.

Jadi, sebagai orangtua, sangat penting untuk memahami alasan di balik semua jeritan memekakkan telinga itu. ketimbang terburu-buru merasa terganggu.

Menurut Elaine Weitzman, ahli patologi ragam bahasa, balita hanya tahu beberapa kata sehingga mereka berkomunikasi menggunakan upaya lain, salah satunya berteriak.

Meskipun banyak balita bisa berteriak hanya untuk bersenang-senang dan untuk menghibur diri mereka sendiri, jeritan itu kerap tidak diterima dengan baik oleh orang dewasa.

Beberapa mungkin merasa khawatir, atau ada pula yang merasa kesal.

Kuncinya adalah mencari tahu alasan di balik jeritan dan melihat apa yang dapat dilakukan orangtua untuk mengatasinya.

Balita menjerit karena beberapa alasan. Mari kita jelajahi beberapa alasan dan cara untuk menghadapinya:

1. Jeritan sukacita

Di saat vokal yang keras bercampur dengan senyum dan tawa mungkin mengkhawatirkan bagi beberapa orangtua, dokter anak mengatakan bahwa itu normal.

Baca juga: Cara Mudah Mengajarkan Matematika dan Bahasa Inggris pada Balita

Tidak apa-apa membiarkan anak berteriak di dalam rumah atau di taman.

Kekhawatiran muncul ketika jeritan kegembiraan itu dibiarkan di ruang publik seperti rumah sakit, perpustakaan, tempat-tempat keagamaan, atau pusat perbelanjaan.

Apa yang harus dilakukan?

Gendong si kecil dan tepuk punggungnya dengan lembut. Berdasarkan lingkungan sekitar, beri tahu dia apakah boleh atau tidak berteriak.

Misalnya, jika semua berada di taman, katakan padanya bahwa tidak apa-apa untuk berteriak.

Tetapi, jika kamu dan anak berada di dalam pusat perbelanjaan atau perpustakaan, dengan sopan minta;ah dia untuk menjaga suaranya agar tetap terkontrol.

2. Mencari perhatian

Saat ini, ketika kedua orangtua sedang sibuk, misalnya ada rapat virtual atau mengerjakan pekerjaan rumah, waktu untuk anak tentu akan berkurang.

Hal ini bisa menjadi penyebab anak menangis dan berteriak.

Apa yang harus dilakukan?

Gendong anak di lengan dan gosok perlahan ke belakang, beri ciuman di pipi atau dahinya dibarengi dengan senyuman.

Gesture ini akan meyakinkan anak bahwa dia istimewa bagimu dan bahwa kamu tidak mengabaikannya.

Baca juga: Cara Memastikan Balita Tak Kekurangan Gizi

3. Rasa penasaran

Pada saat seorang anak kecil menyadari bahwa dia sudah bisa menjerit, dia ingin tahu tentang jeritannya itu sendiri.

Dia mencoba membuat suara keras dengan menjerit dan memodulasinya untuk memuaskan rasa penasarannya.

Apa yang harus dilakukan?

Buat dia sibuk dengan mainan, permainan, dan puzzle yang penuh warna.

Mainkan gim di mana dia tidak seharusnya berteriak sampai kamu menghitung sampai 20.

Lalu, setiap kali dia melakukannya dengan benar, hadiahi dia dengan pelukan erat atau cium pipinya.

4. Berkomunikasi

Di antara usia 1-3 tahun, balita kesulitan mengekspresikan diri dengan jelas. Kosakata mereka masih berkembang, sehingga mereka tidak bisa mengekspresikan diri menggunakan kata-kata.

Balita yang kerap menjerit dan kemarahan ini diidentifikasi berdasarkan perubahan sikap dan temperamen.

Pada suatu saat anak mungkin senang bermain dan bernyanyi dan pada saat berikutnya, dia mungkin berteriak.

Ini terjadi karena balita tidak dapat mengomunikasikan alasan pasti terkait rasa frustrasinya dengan keadaan di sekitarnya.

Karena itu, ia menggunakan gerakan seperti berteriak untuk berkomunikasi.

Apa yang harus dilakukan?

Gendong anak dengan memeluk dan menggosok punggungnya. Cobalah untuk tidak memperhatikan jeritan, tetapi memahami apa yang dia ingin komunikasikan.

Baca juga: Balita Terobsesi Ingin Jadi Princess Wajarkah?

Katakan padanya, kamu tidak dapat memahami apa pun ketika dia berteriak dan mengekspresikan dirinya dengan suara yang lebih tenang.

Cobalah ajukan pertanyaan seperti, "Apakah kamu kesakitan?" atau "Apakah kamu lapar?"

5. Membakar energi ekstra

Balita penuh energi, dan mereka harus melampiaskannya dengan satu atau lain cara.

Salah satu dari banyak cara mereka membakar energi adalah dengan menjerit.

Apa yang harus dilakukan?

Jika anak sudah lama berada di dalam rumah, keluarlah dan berjalan-jalanlah atau kunjungi taman, di mana ia bisa membakar energi ekstra.

6. Kelelahan

Ketika sangat lelah, kebanyakan balita menjerit dan menangis. Tidak dapat beristirahat menyebabkan amukan, tangisan, dan perilaku irasional.

Tanda-tanda kelelahan dan kurang tidur termasuk gelisah, menggosok-gosok mata dan menguap.

Apa yang harus dilakukan?

Tergantung pada jam berapa hari itu, ajak si kecil untuk tidur siang sehingga ia bangun dengan santai dan tenang.

Perbaiki waktu untuk tidur siang dan juga ikuti rutinitas tetap untuk waktu tidurnya.

7. Lapar dan marah

Kelaparan mungkin menjadi penyebab semua teriakan dan teriakan, jika balita baru saja bangun atau belum makan selama lebih dari tiga jam.

Kebanyakan balita merasa sulit untuk berkomunikasi bahwa mereka lapar, sehingga mereka menunjukkan kemarahan dalam bentuk menjerit.

Baca juga: Jaga Kebersihan agar Balita Tak Mudah Sakit

Apa yang harus dilakukan?

Cobalah tawarkan beberapa makanan ringan yang ia disukai. Siapkan stok beberapa makanan kecil favoritnya di lemari.

Kapan harus ke dokter?

Jika berurusan dengan balita yang menangis tersedu-sedu yang tidak berhenti bahkan setelah dihibur, maka sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak.

Sering kali itu bisa menjadi masalah yang berhubungan dengan kesehatan seperti infeksi perut atau cedera yang mungkin terjadi saat orangtua tidak ada, dan tidak mengetahuinya.

Ketika anak menjerit atau menangis terus menerus, cobalah untuk menemukan penyebabnya, menghiburnya, dan beri dia waktu untuk tenang.



Sumber Asia One
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X