Kompas.com - 27/07/2020, 14:35 WIB

Dalam dunia sepakbola, Indonesia bisa belajar dari Liga Inggris.

Belasan tahun lalu, TV rate Liga Inggris di bawah Liga Italia. Namun kini, rating Liga Inggris sama dengan gabungan Liga Spanyol, Italia, Perancis, dan Champion.

Baca juga: 10 Tahun Perjalanan Cotton Ink, Berawal dari Facebook dan Modal Minim

“Kenapa jadi mahal dan banyak ditonton? Pemain dan pelatih terbaik ada di sini, mampu bayar, karena penghasilannya tertinggi di dunia nomor empat,” ungkap dia.

Penghasilan terbesar mereka dari TVR -peringkat televisi, yakni ukuran audiens, mewakili persentase populasi dasar yang menonton sebuah program.

Selama ini, penonton terbanyak televisi ada di Asia. Dan, Liga Inggris menyadari hal tersebut.

Mereka kemudian menyiarkan pertandingan mengikuti primetime Asia, sehingga rate iklan mereka bisa melambung. 

“Penonton di China lebih banyak dibanding penonton Inggris keseluruhan. Sedangkan Liga Italia dan Spanyol ngotot mengikuti primetime negaranya."

"Jatuhnya di Asia tengah malam jadi sedikit yang menonton,” ucap Helmi.

Senada dengan itu, VP of Partnership & Activation/Comercial Persib Bandung, Gabriella Witdarmono mengatakan, olahraga memang awalnya hanya menonjolkan adu otot.

Namun sekarang, atlet menjadi role model kegiatan sosial, fashion, hingga endorsement.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.