Agar Anak Bisa Gembira Sekolah di Rumah

Kompas.com - 01/08/2020, 20:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Banyak orangtua yang mengeluh karena sulit mendampingi anak-anaknya yang sedang bersekolah dari rumah. Keluhan itu banyak ditemui dalam unggahan di media sosial.

Di lain pihak, sikap keras orangtua saat menjadi “guru” pendamping bagi anak bisa membuat anak tidak nyaman belajar, bahkan makin stres dan mogok mengikuti pelajaran.

Psikolog keluarga Ajeng Raviando mengatakan, saat orangtua stres atau tidak mendukung anak, anak juga dapat merasakannya.

““Untuk dapat lingkungan belajar yang kondusif, perlu komunikasi yang efektif. Ini bisa dicapai jika orangtua mengenali dan memahami karakter kepribadian anak sehingga bisa menyesuaikan diri,” kata psikolog Ajeng Raviando dalam acara diskusi media yang diadakan oleh Frisian Flag Indonesia secara virtual (29/7).

Orangtua perlu memahami kebutuhan anaknya. Pada anak usia dini yang belum bisa mengekspresikan perasaannya, orangtua bisa mengamatinya dari ekspresi dan bahasa tubuh anaknya.

Beri anak motivasi, pembiasaan, serta penerapan disiplin positif untuk anak.

Baca juga: Memilih Gaya Belajar yang Sesuai Tipe Kepribadian Anak

Suasana belajar

Salah seorang staf pengajar pendidikan anak usia dini, Gezta Pattiasina mengatakan, pembelajaran jarak jauh memang bukan metode belajar yang ideal untuk anak, tetapi bisa dilakukan dengan kebiasaan.

Gezta mengatakan, orangtua bisa membantu anak untuk menjadikan metode belajar ini sebagai rutinitas baru.

“Siapkan suasana hati supaya anak siap belajar. Cek rencana belajar dari sekolah dan menyiapkan materi yang dibutuhkan. Jangan pas sudah dimulai lalu repot mencari materi, padahal oleh guru sudah diberitahu jauh-jauh hari,” kata Gezta dalam acara yang sama.

Selain jadwal pelajaran dari sekolah, menurut Gezta orangtua bisa membantu anak belajar lewat berbagai hal, misalnya menggunakan mainan atau barang di rumah.

Baca juga: Anak Jenuh Sekolah di Rumah, Orangtua Harus Berbuat Apa?

“Anak usia dini juga bisa belajar dan bermain di halaman dan taman, belajar berhitung dengan engklek, atau membuat boneka dengan kaos kaki bekas. Kegiatan ini mendorong anak tetap aktif dan membuat kreatif,” katanya.

Dalam mendampingi pelajaran dari sekolah, menurut Ajeng, orangtua tidak perlu memaksakan diri jika tidak menguasai materi.

“Carilah bantuan supaya orangtua juga nyaman, misalnya dengan bertanya pada guru atau om dan tantenya. Sehingga anak merasa ada kemudahan memahami. Orangtua jangan terbelenggu merasa harus jadi guru bagi anak,” kata Ajeng.

Jika anak selalu kesulitan memahami materi yang diberikan, amati apakah gaya belajarnya sudah sesuai dengan karakter anak.

Ada anak yang lebih mudah mengerti jika diajak untuk praktik langsung atau diberi penjelasan lewat video dan eksplorasi langsung di sekitar rumah.

Membuat manajemen waktu yang baik juga diperlukan, tidak cuma untuk anak tapi juga orangtua. Bila anak butuh selalu didampingi, orangtua bisa mengatur kapan harus mengerjakan tugas domestik.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X