Kompas.com - 05/08/2020, 11:00 WIB

KOMPAS.com— Sebagai orangtua kita kerap kesal dengan boneka milik anak yang sudah usang, tanpa kaki, maupun bentuknya yang tidak karuan. Namun saat kita ingin membuang untuk menggantinya dengan yang baru mereka akan menangis dan tak mengizinkan.

Atau ada pula selimut kesayangan yang sudah sering terkena ompol dan banyak bagian berlubang yang selalu dipakainya tiap malam. Selimut kesayangannya ini bahkan tak pernah lepas dari genggaman, termasuk dibawa bepergian.

Selimut, boneka beruang, dan benda lunak yang dimiliki dan disayangi oleh anak-anak adalah hal yang disebut sebagai objek transisi oleh para psikolog.

Benda-benda itu dipilih oleh anak untuk memberikan kenyamanan dan kepastian, sekaligus mewakili perasaan dan pengalaman anak tentang orangtuanya.

Tapi jangan khawatir, objek transisi anak bukan pengganti ayah ibunya, melainkan indikasi positif ikatan ibu-anak yang sehat yang mendukung tumbuh kembangnya, bahkan membantu mereka menjadi lebih mandiri.

Baca juga: 6 Masalah Makan pada Balita dan Cara Mengatasinya

Kemampuan anak untuk terpisah dari orangtuanya mungkin tidak mudah dilakukan, dan awalnya banyak menemui kegagalan. Benda-benda kesayangan itu akan memberikan mereka ketenangan, kenyamanan dan kedekatan yang berkelanjutan, yang selama ini diberikan oleh orangtuanya.

Anak lalu menggunakan objek transisi mereka itu untuk memberikan ketenangan dari dalam, sehingga mereka dapat lebih mudah membuat emosi transisi dari ketergantungan pada orangtuanya menjadi kemandirian.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), objek transisi dapat menjadi sumber penting dukungan emosional untuk anak.

Objek transisi bukan hanya mengomunikasikan kasih sayang ketika orangtua tidak ada di dekat anak, tapi juga berfungsi sebagai fondasi untuk mengatur emosi, serta berperan sebagai figur kelekatan yang memberdayakan anak dengan rasa nyaman dan aman saat tidak bersama orangtuanya.

"Teman setianya" itu mampu membentengi anak dari kecemasan perpisahan jangka pendek yang harus terjadi untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang mereka akan lebih banyak kemandirian.

Baca juga: Begini Cara Melatih Anak agar Mandiri Sejak Dini

Lebih percaya diri

Etnolog dan pendiri antropologi psikoanalitik, Dr. Géza Roheim percaya bahwa dengan memiliki rasa aman, anak-anak pun berani untuk mengambil risiko kecil yang membantu mereka percaya diri dan tidak takut mengambil risiko yang lebih besar ketika mereka mengeksplorasi dan tumbuh.

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Sebagian besar anak-anak menyimpan objek transisi mereka selama tahun-tahun saat masa prasekolah. Hal ini normal dialmi anak-anak dalam masa itu.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Pediatrics, jurnal American Academy of Pediatrics, para peneliti menemukan bahwa sekitar setengah dari anak-anak yang dipelajari membentuk keterikatan pada suatu objek pada masa bayi, dan kemudian sekitar setengah dari anak-anak itu menyimpannya hingga usia 9.

Penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak yang secara emosional melekat pada objek transisi tampak dewasa dan menyesuaikan diri seperti anak-anak lain.

Tetapi jika anak tampaknya tidak memiliki boneka atau selimut kesayangan, itu tidak perlu dikhawatirkan. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang tidak memiliki objek transisi tidak memiliki pengaruh signifikan pada masalah perilaku saat remaja.

Intinya: Ada alasan mengapa anak begitu terikat dengan benda kesayangan mereka. Objek kenyamanan ini cocok untuk anak memulai hubungan pertama dan paling penting yang mereka miliki sepanjang hidup mereka.

Baca juga: Tips Menguatkan Ikatan Emosional Orangtua dan Anak Selama Pandemi


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Motherly
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.