Kompas.com - 06/08/2020, 08:47 WIB

Menurut Tania, Hadi harus menjelaskan seperti apa penelitian yang telah dilakukannya. Sebab, penelitian perlu melalui proses panjang, mulai dari persetujuan komite etik penelitian kesehatan, pengajuan proposal, persetujuan izin dari BPOM, hingga pengajuan pembiayaan jika memang penelitian membutuhkan anggaran yang besar.

Baca juga: Kata BPOM dan Kemenkes soal Klaim Obat Bisa Sembuhkan Covid-19

Sebuah obat tidak bisa diklaim hanya berdasarkan testimoni pengguna tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan. 

"Perlu kita pertanyakan mana buktinya kalau sudah diteliti. Apakah sekadar testimoni dari orang-orang yang sudah mencoba produk dia? Kalau pun testimoni harus tetap diverifikasi apakah itu benar-benar bisa dipertangungjawabkan, tidak ada rekayasa, pembuktikan apakah memang sembuh karena produk dia."

"Bisa saja sembuhnya karena orang tersebut juga mengonsumsi herbal herbal lain, atau kalau Covid-19 nya ringan dia bisa sembuh sendiri juga tanpa bantuan atau konsumsi produknya dia," ujarnya.

Baca juga: Soal Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, IDI: Tak Sesuai Keilmuan Pakar Kesehatan

Bahaya klaim

Tania menilai penyebaran klaim menyesatkan seperti yang dilakukan Hadi Pranoto tersebut sangat berbahaya.

Selain dari klaim sepihak tentang herbal yang dapat menyembuhkan Covid-19, di dalam video Hadi dan Anji juga terlihat tidak mengikuti protokol kesehatan Covid-19.

"Dari videonya Anji saja kita lihat mereka dengan cueknya salaman dengan dalih sudah aman, sudah minum produknya Hadi Pranoto ini. Itu sangat berbahaya karena masyarakat bisa menirukan, karena Anji adalah public figure," tuturnya.

Sikap tidak patuh protokol kesehatan seperti yang ditunjukkan figur publik seperti Anji bisa membuat masyarakat abai dengan protokol kesehatan karena menilai obat tersebut ampuh untuk mengobati Covid-19.

Terhadap kejadian ini, Tania berharap masyarakat bisa lebih kritis dan tidak terlalu mudah mempercayai klaim-klaim yang dianggap menyesatkan tentang Covid-19.

"Intinya kritis saja dan jangan berharap secara berlebihan dulu," sambungnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.