Kompas.com - 20/08/2020, 10:45 WIB
ilustrasi detak jantung SHUTTERSTOCKilustrasi detak jantung

KOMPAS.com - Salah satu cara tercepat dan termudah untuk mengukur kesehatan jantung kita adalah memeriksa detak jantung saat istirahat atau resting heart rate (RHR).

Detak jantung kerap digunakan sebagai tolak ukur untuk beberapa kondisi, seperti tekanan darah, stres, dan kurang tidur.

Saat beristirahat, detak jantung kita akan lebih lambat dibandingkan ketika kita melakukan aktivitas, dan ini bervariasi antara satu orang dengan orang lain.

Baca juga: Asam Lambung Naik Bisa Sebabkan Jantung Berdebar, Benarkah?

Lalu, bagaimana jika detak jantung saat istirahat terlalu lambat? Perlukah kita khawatir akan hal itu?

"Secara umum, detak jantung saat istirahat seseorang dikatakan normal jika berada antara 60-100 beat per minute (BPM)," kata Dr. Brian Mikolasko, direktur medis di Warren Alpert Schools of Medicine di Brown University.

"Ada banyak faktor berbeda yang memengaruhi detak jantung saat istirahat bagi setiap individu, dari tingkat kebugaran hingga usia dan lingkungan."

Detak jantung saat istirahat yang normal bervariasi pada anak kecil. Hingga berusia satu bulan, detak jantung anak berkisar dari 70-190 BPM.

Batas atas rentang detak jantung anak menurun perlahan di usia 9 tahun, antara 70-110 BPM. Memasuki usia 10 tahun ke atas, detak jantung saat istirahat berada di kisaran 60-100 BPM.

Detak jantung saat istirahat di angka 38 atau 42 BPM identik pada pelari ketahanan atau atlet triatlon, namun angka itu tergolong lambat bagi seseorang yang melakukan olahraga biasa.

Sebelum beraktivitas di pagi hari, ada baiknya kita mengukur detak jantung saat istirahat, karena angkanya akan berubah selama kita berolahraga.

Baca juga: Benarkah Fitness Tracker Efektif untuk Mengukur Detak Jantung?

American Heart Association (AHA) menyatakan, detak jantung maksimum selama olahraga kira-kira setara dengan 220 bpm dikurangi usia, yang merupakan salah satu metode mendasar untuk memperkirakan batas atas detak jantung seseorang.

Pengukuran detak jantung berdasarkan usia mudah digunakan, tetapi belum tentu cocok bagi setiap orang, karena banyak faktor yang memengaruhi keakuratannya.

Ditambah lagi, detak jantung maksimal bervariasi secara signifikan pada orang-orang dengan usia yang sama.

Karena itu, American College of Sports Medicine menyarankan formula berbasis usia dengan standar deviasi (penyimpangan) yang lebih rendah, misalnya formula Gelish: 207 - (0,7 x usia) atau formula Tanaka: 208 - (0,7 x usia).

Kisaran normal detak jantung saat istirahat adalah 60-100 BPM, sehingga detak jantung di bawah 60 BPM dinilai lambat dan sering disebut sebagai bradikardia (detak jantung di bawah normal).

"Bukan hal aneh bagi orang sehat yang melakukan aktivitas ketahanan untuk mengalami bradikardia, berdasarkan peningkatan vagal tone dari latihan yang menekan detak jantung."

Baca juga: Rutin Konsumsi Cokelat Seminggu Sekali Bantu Menjaga Kesehatan Jantung

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X