Kompas.com - 25/08/2020, 14:27 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com – Perubahan gaya belajar, dari tatap muka menjadi sistem online di masa pandemi Covid-19 bukanlah merupakan hal yang mudah bagi semua pihak, termasuk anak.

Awalnya, anak akan merasa ingin tahu tentang perubahan situasi dan rutinitas barunya.

Bila rasa ingin tahu -yang tak jarang dibarengi dengan kebingungan, ini belum terjawab, maka kondisi itu bisa membuat anak gelisah, hingga bahkan menjadi seperti tak memiliki tujuan yang jelas.

“Ketidakjelasan atau kebingungan dan perubahan situasi yang mendadak ini dapat menyebabkan seseorang tertekan atau stres.”

Baca juga: 6 Cara Mengelola Stres dan Mengontrol Rasa Marah pada Anak

Demikian pandangan yang diungkapkan Psikolog Peminatan Perkembangan Anak dan Remaja, Irma Dianita kepada Kompas.com, seusai webinar The Rise of Digital Parenting-EF, belum lama ini.

Lantas, bagaimana cara mengelola stres pada anak dalam kasus seperti ini?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Irma menjelaskan, anak-anak sesungguhnya dapat dibantu dengan membuka pola komunikasi secara terbuka.

Apa yang dia dirasakan pada situasi seperti pandemi ini? Lalu, berilah beri gambaran apa saja yang bisa dilakukan, dan bagaimana menghadapi kegiatan keseharian.

Komunikasi yang intensif semacam itu akan membantu anak mengelola situasi rutinitas yang berubah.

Anak pun, menurut Irma, akan dapat beradaptasi menyesuaikan situasi yang terjadi.

“Karena itu siapa yang bisa membimbing anak di situasi seperti demikian? Mau tidak mau adalah orangtua atau keluarga sebagai support sistem yang terdekat dengan anak,” tutur Irma.

“Kalau mau mengajarkan anak mengelola stres, tentu orangtua harus lulus dulu dalam mengelola stres yang dirasakannya,” imbuh dia.

Langkah orangtua

Irma mengungkapkan, orangtua harus menyadari, mereka adalah teladan, panutan atau role model bagi anak.

Untuk itu, selalu berusaha konsisten menunjukkan bagaimana bersikap positif, dan pengendalian diri dalam pengelolaan emosi saat menghadapi masalah dan tantangan, bakal ditangkap dan ditiru oleh anak.

Sedangkan, menghadapi masa pendidikan online, setidaknya ada lima langkah yang harus dilakukan orangtua. 

Pertama, membimbing dengan peran menjadi figur yang membangun motivasi jiwa pembelajar anak.

Bangunlah motivasi kepada anak untuk tetap optimistis, dan membangun situasi yang menyenangkan untuk anak belajar.

Caranya, berpikir terbuka terhadap hal baru mengenai aplikasi atau sistem pendidikan online. Termasuk mengetahui pengembangan ilmu dan teknologi.

“Orangtua bukan harus jadi ahli teknologi namun perlu terbuka untuk tahu manfaat serta dampak positif dan negatif dari teknologi yang diberikan."

"Sehingga, penerapan aturan penggunaan teknologi bijak dapat ditegakkan,” kata dia.

Baca juga: Stres Bisa Bikin Gula Darah Meningkat

Kedua, bantulah anak anak menetapkan kesepakatan dan target sederhana dari tema pengetahuan yang diajarkan.

Termasuk kesepakatan penggunaan gawai dan belajar sosial, demi pengembangan lifeskill nya.

Misalnya, dalam sehari anak akan melakukan diskusi atau menjelaskan ulang tentang tema pelajaran pada jam tertentu.

Sehingga, bantuan yang diberikan orangtua akan tepat sasaran untuk proses pengembangan pengetahuan yang ditangkap anak melalui sistem online.

Belajar tidak hanya materi sekolah tapi pembelajaran tentang life skill, dan kemandirian pun adalah bagian bekal pembelajaran hidup untuk membentuk karakter yang perlu diterapkan di rumah,” imbuh dia.

Ketiga, pengalaman konkret.

Penerapan penjelasan aplikatif ilmu pengetahuan melalui karya, presentasi anak, atau pun bimbingan praktek akan membentuk pengalaman anak.

Metode serupa juga mampu meningkatkan daya ingat serta membantu pemahaman anak menjadi lebih berkembang.

Keempat, sinergi orangtua dan sekolah atau guru sebagai pemantauan perkembangan anak.

Umpan balik dari orangtua sangat berharga untuk informasi proses pembelajaran online. Hal ini pundapat menjadi evaluasi proses pembelajaran online secara individu.

Kelima, di masa pendidikan online ini, orangtua wajib menerapkan disiplin yang positif dalam situasi rumah.

Orangtua juga bertanggung jawab membangun rutinitas di rumah dengan berbagai kesepakatan kegiatan yang akan dilakukan anak dan orangtua.

Baca juga: Benarkah Stres Dapat Membuat Kita Sakit?

“Ini akan membantu anak memudahkan, melakukan sesuai arahan atau kesepakatan yang telah diambil bersama,” ucap dia.

Konsistensi dari orangtua, dan komunikasi yang hangat juga perlu dijaga agar anak merasakan pola disiplin dan keteraturan yang disepakati.

Hal ini akan memudahkan pengelolaan sikap serta membantu anak berpikir lebih sistematis tentang apa yang bisa dilakukan atau yang akan dilakukan.

“Seimbangkan hak dan kewajiban anak agar dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan buat anak,” cetus Irma.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.