Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Ketika Bukan Orang Kesehatan Bicara soal Kesehatan

Kompas.com - 25/08/2020, 20:11 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

 

Apalagi panggung birokrat dan teknokrat. Mana mau mereka berpikir lelah-lelah soal etiologi, epidemiologi, patofisiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, hingga prognosis. Istilah ‘terapi’ hanya satu bagian sempit diantara diagnosis dan prognosis.

Tapi kilaunya bak berlian di antara batu akik. Menyiratkan keajaiban di tengah kesengsaraan.

Padahal, etiologi Covid-19 berbeda dengan selesma yang cukup istirahat seharian dan gosok minyak kayu putih sambil kerokan.

Pun jika sudah paham sedikit soal virus, tidak bisa mengandaikan semua virus punya karakter yang sama.

Apalagi, jika karakter manusia yang ketempelan virusnya pun beda. Mulai dari susah diatur hingga merasa diri superhero.

Baca juga: Pembiaran Norma Anyar yang Makin Ambyar

Tanpa dirasa, hampir setengah tahun hidup kita sudah banyak berubah. Bukan hanya penghasilan saja yang berubah.

Sayangnya, perubahan ini mestinya membuahkan hasil yang sepadan, bukan malah kontraproduktif.

Perubahan perilaku kita diawali dengan ricuhnya pengeras suara di semua panggung. Hingga panggung utama kehilangan kendali.

Andai saja, sejak mula penggunaan masker dicontohkan dengan benar. Yang ‘bukan orang kesehatan’ itu mau belajar. Nurut sedikit.

Belajar juga soal tata laksana manajemen aseptik antiseptik untuk diterapkan serius. Belajar dasar-dasar pencegahan penyakit infeksius, bukan malah jadi sumber penularan akibat tren salah pakai sarung tangan dan face shield tanpa masker.

Banyak spesialis bedah atau malah perawat ruang operasi yang dengan senang hati bisa diundang naik ke panggung preventif dan promotif untuk mengajari cuci tangan dengan benar, memakai dan melepas masker atau sarung tangan jika memang betul-betul perlu dipakai.

Sementara panggung lain suruh diam dulu, jangan berisik promosi inovasi yang dipaksakan. Agar rakyat bisa konsentrasi.

Sayangnya itu semua tidak terjadi. Sehingga, ada walikota sampai terpingsan-pingsan dan teriak-teriak keluar masuk pasar.

Lebih mengenaskan lagi, beberapa pemerintahan daerah terpaksa kehilangan pemimpinnya.

Baca juga: Bagaimana Kita Pasca Pandemi, Tergantung Kita Hari Ini

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.